Latar belakang penelitian Sejak dicanangkannya program memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat pada tanggal 9 September 1983, olahraga telah menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Masyarakat telah menyadari pentingnya tubuh yang sehat, dan untuk menjaga kesehatannya mereka memilih cabang olahraga yang sesuai dengan minatnya. Dilihat dari segi permasalahan olahraga, Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat menggembirakan. Peminat berbagai cabang olahraga menunjukkan jumlah yang terus meningkat dan hal ini memberi peluang bagi KONI untuk memperoleh bibit-bibit yang pontensial yang akan menjadi olahragawan yang berprestasi apabila mendapat pembinaan yang baik. Tetapi apabila diperhatikan prestasi olahragawan Indonesia di arena regional dan internasional belum dapat di katakan menggembirakan. Prestasi pada cabang olahraga yang dahulu didominasi oleh Indonesia, akhir-akhir ini mulai terancam dan bahkan ada yang digeser oleh negara lain. Hal tersebut bukan disebabkan oleh tidak adanya kemajuan prestasi olahraga di Indonesia, tetapi juga disebabkan oleh kemajuan yang cepat dari negara lain. Keadaan tersebut antara lain terlihat dalam cabang olahraga renang. Kemajuan dalam olahraga renang biasanya di tandai oleh dipecahkannya rekor-rekor lama sehingga tercipta rekor-rekor baru. Apabila dilihat dalam skala nasional, kita tidak dapat mengatakan bahwa prestasi renang di Indonesia tidak ada kemajuan, karena banyak rekor-rekor yang tumbang dan bahkan banyak rekor yang tidak dapat bertahan lama. Tetapi apabila dilihat dalam skala regional, misalkan di wilayah Asia Tenggara, akan terlihat bahwa kemajuan yang telah dicapai Indonesia tidak sepesat negara tetangga, kita. Hal tersebut tampak nyata dengan adanya penurunan perolehan medali cabang olahraga renang dalam Sea Games seperti terlihat pada tabel berikut. Jumlah Perolehan Medali Kontingen Indonesia di Sea Games
Adanya penurunan dalam perolehan medali ini tentu tidak menggembirakan berbagai pihak, terutama bagi pengurus PRSI. Untuk mengatasi hal tersebut cukup banyak usaha yang dilakukan oleh pihak pengurus PRSI, antara lain meningkatkan mutu pelatih dengan memberikan penataran, mengirim para atlet nasional untuk berlatih keluar negeri, mengadakan kerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dan masih banyak usaha yang lain. Namun hasil yang dicapai tetap belum menggembirakan, sehingga dirasakan perlu mencari cara-cara lain agar keadaan tersebut dapat segera teratasi. Dalam meningkatkan prestasi renang di Indonesia perlu diperhatikan berbagai faktor, antara lain:
Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, berarti metoda mengajar dan latihan yang baik tidak menjamin tercapainya prestasi yang baik tanpa di dukung oleh bakat, kesegaran jasmani yang prima dan motivasi yang kuat. Oleh karenanya perlu adanya suatu perangkat tertentu guna pencarian bibit dalam olahraga pada umumnya dan olahraga renang pada khususnya. Dengan demikian. perlu adanya. penelitian yang sungguh-sungguh tentang faktor-faktor yang dapat dijadikan indikator atau sebagai pedoman dalam pemilihan bibit. Penelitian ini akan dibatasi pada olahraga renang gaya bebas, dengan demikian peneliti hanya akan mencari faktor apa saja yang perlu dipunyai oleh seseorang, supaya dapat mempelajari gerakan renang dengan mudah. Permasalahan penelitian Untuk mencapai prestasi maksimal dalam olahraga pada umumnya dan olahraga renang pada khususnya, perlu di tempuh langkah-langkah sebagai berikut:
Kenyataan yang ada dilapangan adalah sebagai berikut :
Dalam penelitian kali ini peneliti akan membatasi diri pada pemilihan bibit saja, sedangkan untuk hal lain akan di adakan penelitian. dan pembahasan secara terpisah. Dengan demikian masalah penelitian adalah faktor apa saja yang menjadi prasyarat bagi seseorang untuk menjadi olahragawan dengan penguasaan gaya yang baik pada olahraga renang. Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menemukan suatu perangkat sebagai alat ukur untuk pencarian bibit olahragawan renang. Landasan teori dan hipotesa Berbicara tentang pencarian bibit tidak akan terlepas dari hal-hal sebagai berikut:
Sesuai dengan masalah yang telah diuraikan di atas dalam pengkajian teori ini hanya akan di ungkapkan 3 variabel sedangkan motivasi dalam penelitian ini tidak di ungkapkan karena orang coba akan diambil dari kelompok pemula yang masih sangat tergantung kepada orang tuanya. Bakat Unsur yang dominan di dalam olahraga adalah bakat. Bakat sangat dipengaruhi oleh persepsi kinestetik dan bentuk tubuh yang baik serta tepat untuk cabang olahraga tertentu. Persepsi kinestetik merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemampuan seseorang untuk mempelajari gerak sangat ditentukan oleh persepsi kinestetik tersebut. Yang dimaksud dengan persepsi kinestetik adalah kemampuan seseorang untuk dapat membayangkan dan menguasai gerak tubuh dalam ruang dan waktu. Seseorang yang mempunyai persepsi kinestetik yang baik akan dapat dengan mudah membayangkan suatu gerak, dan apabila didukung oleh bentuk tubuh yang sesuai, orang tersebut akan mudah mempelajari olahraga. Karena persepsi kinestetik ini dibawa sejak lahir, maka tidak semua orang dapat menjadi olahragawan yang berprestasi dan enak dipandang walaupun orang tersebut rajin berlatih dan memiliki motivasi yang tinggi. Dengan demikian faktor kemampuan persepsi kinestetik seseorang sangat menentukan dalam penguasaan rangkaian gerak yang diharapkan. Seseorang yang memiliki kemampuan persepsi kinestetik yang tinggi akan mudah mengekspresikan gerakan yang dia bayangkan ke dalam rangkaian gerak phisik yang nyata, karena, orang tersebut dapat menguasai otot-ototnya. Unsur phisik Dalam mempelajari olahraga dibutuhkan kemampuan dasar tertentu, antara lain
a. Koordinasi Berenang bukan merupakan gerakan yang dibutuhkan manusia pada umumnya dalam kehidupannya sehari-hari, lain halnya dengan ikan. Gerakan dasar manusia yang dibutuhkan sehari-hari adalah berjalan, berlari, melompat dan melempar. Gerakan-gerakan tersebut merupakan gerak alami manusia, sehingga mudah dipelajari karena tidak memerlukan koordinasi otot yang rumit. Tetapi untuk belajar berenang seseorang harus sengaja mengatur koordinasi antar otot-ototnya untuk memperoleh gerak maju. Seseorang dikatakan memiliki koordinasi yang baik apabila dapat melakukan gerakan yang membutuhkan banyak otot pada saat yang bersamaan. Tiga unsur yang mendukung koordinasi, yaitu neuromuskuler (impuls, syaraf sampai dengan kontraksi otot), pengaturan kerja otot dan keterampilan (penguasaan pengelolaan. gerak yang harus dilaksanakan). b. Kelentukan Disamping koordinasi hampir semua olahraga memerlukan kelentukan tubuh, karena dalam melakukan kegiatan olahraga sering terpaksa melakukan gerakan yang membutuhkan kelentukan tubuh. Seseorang dikatakan memiliki kelentukan tubuh yang baik apabila orang tersebut dapat merenggangkan otot-ototnya semaksimal mungkin tanpa cendera. Umur Telah menjadi pendapat umum bahwa umur sangat berpengaruh pada belajar gerak. Makin dewasa umur seseorang anak makin cepat belajar sesuatu atau olahraga tertentu, karena makin dapat berkonsentrasi dan mempunyai kemampuan berfikir lebih baik. Berdasarkan teori di atas dapat dibuat hipotesa sebagai berikut
Metodologi Dalam penelitian ini metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan. desain sebagai berikut : Secara operasional penelitian ini ingin mengetahui berapa besar pengaruh bakat (persepsi kinestetik) kemampuan gerak dasar (kelentukan dan koordinasi) dan umur terhadap keamampuan belajar gerak pada seseorang. Sampel penelitian Sampel diambil dari anggota, perkumpulan "Kuncup Harapan" yang termasuk dalam kelompok wnur I (di bawah 10 tahun) yang juga, disebut pernula. Sampel diambil dari perkumpulan ini karena perkumpulan ini mempunyai anggota yang terbanyak di Jakarta dan mempunyai tempat berlatih yang memadai. Sampel berjumlah 27 orang. Pelaksanaan penelitian Seperti telah diterangkan pada bab terdahulu sebelum perlakuan diberikan kepada orang coba, diberikan Pre-tes (tes I) kepada mereka. Tes tersebut mengacu pada persepsi kinestetik, koordinasi dan kelentukan. Jenis Tes I meliputi: Macam rangkaian tes dapat dibuat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai karena belum ada tes standar. Testee mencoba 3x dengan mata terbuka, kemudian testee melakukan dengan mata tertutup dan diukur penyimpangannya. Pelaksanaan Pre-tes untuk persepsi kinestetik adalah sebagai berikut :
Nilai Akhir Nilai akhir adalah jumlah nilai kasar dari kelima tes, kemudian ditransformasikan dalam nilai 1 - 100. 2. Tes Koordinasi Untuk koordinasi digunakan shuttle run dan bertujuan untuk mengukur kelincahan orang coba dalam mengubah arah. 3. Tes Kelentukan Tes Kelentukan yang digunakan adalah "forward flexion of trunk" atau membungkukkan badan ke depan. Tujuan tes ini adalah untuk mengukur kelentukan tubuh.Testee berdiri di atas bangku pengukur kelentukan, lalu membungkukkan badan dengan tangan lurus ke bawah. Pencatatan hasil. Yang diukur adalah tanda bekas jari yang terjauh, hasil yang dicatat adalah angka skala yang dapat dicapai oleh kedua ujung jari tangan dalam 2 kali usaha. Pencatatan dilakukan sampai setengah sentimeter. Kalau kedua ujung jari tangan orang coba (testee) dapat mencapai skala di bawah permukaan bangku, maka, hasilnya positif (dihitung mulai dari permukaan bangku sampai skala yang dicapai kedua ujung jari tangan). Sedangkan jika kedua ujung jari tangan hanya dapat mencapai skala di atas bangku, hasilnya negatif, dihitung mulai dari permukaan bangku sampai skala yang dicapai kedua ujung jari. Setelah selesai tes I orang coba diberi perlakuan, "belajar berenang gaya bebas ". setiap minggu 3x, mulai jam 15.30 s/d 17.30 (2 jam) selama 6 minggu atau 18x pertemuan. Setelah 6 minggu diadakan tes II, untuk melihat penguasaan gerak renang gaya bebas, tes terdiri dari:
Dalam menilai penguasaan gaya ini, peneliti melihat pada saat orang coba melaksanakan latihan.
Pengumpulan dan analisis data Dari hasil tes I dan pengamatan tentang penguasaan gaya setelah orang coba mendapat perlakuan selama 6 minggu, diperoleh data seperti terlihat pada lampiran. Hasil penelitian akan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: Diskripsi Hasil Penelitian Setelah pengolahan data dapat diperoleh hasil sebagai berikut :
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara variabel prediktor umur (X1), koordinasi (X2), persepsi kinestetik (X3) dan kelentukan (X4) dengan variabel kriterion penguasaan gaya (Y). Secara operasional penelitian ini bermaksud menemukan
Dalam uji t menunjukkan bahwa semua variabel prediktor mempunyai tingkat korelasi yang signifikan.
b. Regresi tunggal antara keempat variabel prediktor dengan variabel kriterion (Y). Analisis ini untuk menguji kembali hasil dari analisis korelasi pada. ada.
Kesimpulan dan Saran Dari hasil analisis pada bab sebelumnya dan pendukung yang ada maka. dari hipotesis yang diajukan dapat di uraikan sebagai berikut : Keempat variabel prediktor yang diteliti, 3 variabel mempunyai hubungan yang berbanding lurus dengan penguasaan gaya, sedang variabel kelentukan (X4) tidak ada. hubungan maupun pengaruh terhadap penguasaan gaya Y. Dengan demikian hanya 3 hipotesa yang dapat dibuktikan: a. Makin tinggi usia anak makin mampu menguasai gaya. Kesimpulan Dari keempat variabel prediktor, variabel prediktorX3 (persepsi kinestetik) yang mempunyai hubungan dan pengaruh terbesar terhadap variabel kriterion Y (penguasaan gaya). Saran
Daftar kepustakaan Annarino, A. A. et all, (1980). Curriculum Theory and Design in Physical Education. St.Luis, London, Toronto. The C.V.Mosby Bloom, B. S. et all, (1980). Taxonomy of Educational Objecttives, Affective Design, New York: Longunan Inc. Crassy, B.J. (1968). Movement Behavior and Mottor Learning. Philadelphia, Lea & Febiger. Carron, V. 1971. Laboratory Experiments in Motor Learning. Englewood Cliffs. New Jersey: Prentice Hall Cowell, C. C.; Hazelton, H. W. (1961). Curriculum Designs in Physical Education. New Jersey, Prentice - Hall, Inc. Drowatzky, John. N. (1975). Motor Learning: Principles and Practices Minnesota: Burgess Pub. Co. Kane, J. E. (1970). . Curriculum Development in Physical Education (London: Crosby Lockwood Staples) Larson, L. A. (1970). Curriculum Foundations and Standards for Physical Educattion. New Jersey. Moeloek. (1984). Dasar Fisiologi Kesegaran dasmani dan Latihan Fisik dalam Dangsina Moeloek dan Ariatmo Tjokronegoro (editor). Kesehatan Olahraga. 1984. Jakarta: Penerbit FKUI Neilson, N.P. (1978). Concepts and Objective in Movement Art & Sciences. New York Vantago Press. Singer, Robert. N. 1980. Motor Learning and Human Performance (Edisi ke 3). New York: Mae Millan. Smith. Wendell. I. dan Nicholas. L. Rohman. 1970. Human Leaning. New York: Mc Graw Hill Book Co. _____, (1977). Hasil Pertandingan Renang SEA Games IX _____, (1979). Hasil Pertandingan Renang SEA Games X _____, (198 1). Hasil Pertandingan Renang SEA Games XI _____, (1983). Laporan Kontingen Indonesia SEA Games XII _____, (1987). Hasil Pertandingan Renang SEA Games XIV _____, (1989). Hasil Pertandingan Renang SEA Games XV _____, (199 1). Hasil Pertandingan Renang SEA Games XVI _____, (1993). Hasil Pertandingan Renang SEA Games XVII | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Senin, 27 September 2010
PENGARUH UMUR, KEMAMPUAN KOORDINASI KELENTUKAN TUBUH DAN PERSEPSI KINESTIK TERHADAP PENGUASAAN GERAK
GURU SEBAGAI PEKERJA PROFESIONAL
Pendahuluan Waktu berjalan begitu cepat, tahun demi tahun terlampaui tanpa terasa, dan tiba-tiba abad 21 sudah berada di ambang pintu. Mereka yang menyadari cepatnya pergeseran waktu pasti telah menghitung-hitung apa yang telah, sedang, dan akan dilakukannya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, tentu juga mencoba melakukan refleksi atau renungan tentang apa yang telah dan sedang dilakukan sebagai dasar untuk menyusun strategi dalam menghadapi abad yang akan datang. Salah satu masalah pendidikan yang dianggap belum pernah tuntas dan karenanya pasti akan dihadapi pada abad yang akan datang adalah masalah mutu pendidikan. Ukuran mutu pendidikan memang selalu berubah, sesuai dengan kondisi masyarakat serta perkembangan i1mu pengetahuan dan teknologi. Salah satu aspek yang dianggap sangat berperan dalam menentukan mutu pendidikan adalah guru, karena guru yang secara teratur dan terjadwal berdiri di depan kelas. Oleh karena itu, salah satu usaha yang dilakukan secara terus-menerus untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan kemampuan guru. Mengingat betapa pentingnya peran guru dalam peningkatan mutu pendidikan, pengkajian tentang sosok guru yang diinginkan dalam millenium mendatang menjadi sangat relevan. Setiap orang yang peduli terhadap dunia pendidikan tentu menginginkan agar guru dapat. berbuat yang terbaik bagi anak didiknya. Apa yang harus dikuasai oleh guru agar mampu memenuhi harapan tersebut? Jawaban pertanyaan inilah yang ingin dikaji dalam artikel ini. Pengkajian akan diawali dengan membahas hakikat profesi guru, sosok guru abad 21, berbagai usaha yang telah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru atau yang sering disebut sebagai usaha pemberdayaan guru, dan diakhiri dengan implikasi semua renungan ini bagi Universitas Terbuka. Hakikat profesi guru Pada hakikatnya, pekerjaan guru dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, yang sangat berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka perlu ditekankan bahwa yang layak menjadi guru adalah orang-orang pilihan yang mampu menjadi panutan bagi anak didiknya. Hal ini sesuai dengan hakikat pekerjaan guru sebagai pekerjaan profesional, yang menurut Darling-Hamond & Goodwin (1993) paling tidak mempunyai tiga ciri utama. Ketiga ciri tersebut adalah: (1) penerapan ilmu dalam pelaksanaan pekerjaan didasarkan pada kepentingan individu pada setiap kasus, (2) mempunyai mekanisme internal yang terstruktur, yang mengatur rekrutmen, pelatihan, pemberian lisensi (ijin kerja), dan ukuran standar untuk praktik yang ethis dan memadai; serta (3) mengemban tanggung jawab utama terhadap kebutuhan kliennya. Di samping ketiga ciri pekerjaan profesional yang telah diungkapkan di atas, perlu dicatat bahwa keprofesionalan seseorang bukan merupakan dikotomi, tetapi merupakan satu rentangan atau kontinum, mulai dari pemula (novice) sampai kepada pakar (expert). Sejalan dengan konsep ini, seorang guru meniti karir dari entry ke mentor sampai ke master teacher (Riel, 1998). Dikaitkan dengan surat keputusan Menpan no. 26/1989, guru dapat meniti karir mulai dari -guru pratama sampai kepada guru utama. Dari segi penyiapan guru, program pendidikan guru, sebagaimana. halnya suatu profesi, memerlukan waktu. yang relatif lama dalam jenjang perguruan tinggi (Tilaar, 1995), yang paling tidak harus sama dengan program penyiapan profesi lain seperti sekolah kedokteran. Program tersebut haruslah memberikan kesempatan kepada calon guru untuk menimba pendidikan umum yang menantang, mendalami pengetahuan bidang studi yang mendasari praktik, menghayati latihan yang efektif untuk memangku jabatan, serta mengembangkan wawasan/filosofi profesinya (Brameld, Th., 1965). Profesionalisme ditandai oleh dua pilar penyangga utama, yaitu layanan ahli yang aman yang menjamin kemaslahatan klien, serta pengakuan dan penghargaan dari masyarakat (Raka Joni, 1989; Konsorsium Ilmu Pendidikan, 1993). Pilar yang pertama, yaitu layanan ahli, harus mampu ditunjukkan secara meyakinkan dengan berpegang pada kode etik profesi (Tilaar, 1995) sehingga masyarakat merasa aman menerima layanan tersebut. Di pihak lain, pengakuan dan penghargaan masyarakat terhadap layanan ahli yang diberikan akan memperkokoh kehandalan profesi tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan timbal balik antara kehandalan layanan dengan pengakuan dan penghargaan masyarakat. Makin handal layanan ahli yang diberikan dan makin tinggi rasa aman yang dirasakan penerima layanan, makin tinggi pula penghargaan dan pengakuan dari masyarakat. Selanjutnya patut pula dicatat bahwa layanan ahli yang diberikan haruslah didasarkan pada bidang ilmu yang diakui sebagai landasan profesi tersebut karena profesionalisme mulai dengan preposisi: knowledge must inform practice (Darling-Harmmond & Goodwin, 1993). Dengan mengacu kepada ciri-ciri pekerjaan profesional yang digambarkan di atas, maka dapat dipahami bahwa. seorang guru yang profesional bukanlah seorang tehnisi atau seorang tukang yang hanya menunggu perintah dari mandorya. Seorang guru yang profesional seyogyanya mampu mengambil keputusan serta membuat rencana yang disesuaikan dengan kondisi siswa, situasi, wawasannya sendiri, nilai, serta komitmennya (Zumwalt, 1989). Dengan perkataan lain, seorang guru yang profesional harus mampu mengambil keputusan situasional dan transaksional (Raka. Joni, 1989). Keputusan situasional diambil oleh guru ketika merencanakan pembelajaran, sedangkan keputusan transaksional diambil guru ketika melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian, seorang guru yang profesional tidak akan pernah menganggap bahwa rencana pembelajaran yang disusunnya dapat digunakan seumur hidup. Ia selalu harus mampu membaca situasi (seperti karakteristik siswa, ruang, waktu, sarana/fasilitas, perkembangan dalam dunia pembelajaran) dan kemudian menyesuaikan rencananya dengan situasi yang akan dihadapi. Ia harus mampu memutuskan sumber dan media belajar apa yang akan digunakan, demikian pula strategi pembelajaran serta evaluasi yang akan dia terapkan. Ketika pembelajaran atau transaksi sedang berlangsung, kembali ia harus mampu membaca situasi dan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Selanjutnya, setelah pembelajaran berlangsung, guru harus mampu melakukan refleksi/analisis terhadap apa yang telah terjadi di dalam kelas dan apa yang telah dicapai oleh siswa. Akhirnya, guru harus mampu memanfaatkan hasil refleksi/analisis ini untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berikutnya. Dari segi pengakuan serta penghargaan masyarakat dan pemerintah, keputusan Menpan No. 26/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru merupakan pengukuhan jabatan guru sebagai jabatan fungsional/profesional, yang mempunyai tugas, wewenang, dan tanggung jawab melaksanakan pendidikan di sekolah. Bidang pekerjaan guru dibagi menjadi empat kelompok, yakni pendidikan, proses belajar-mengajar atau bimbingan dan penyuluhan, pengembangan profesi, dan penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan. Sosok guru pada abad 21 Bagaimana sosok guru pada abad 21? Secara sederhana pertanyaan ini mungkin akan dijawab dengan enteng: guru pada abad 21 sama saja dengan guru sekarang. Sepintas lalu, jawaban ini ada benarnya karena perbedaan pada tuntutan kemampuan guru pada umumnya sukar ditandai secara jelas, lebih-lebih jika yang dimaksud abad 21 adalah tahun 2000 atau 2001. Namun, perlu diingat satu abad adalah 100 tahun, satu kurun waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, perlu dipikirkan/direnungkan dari sekarang kira-kira bagaimana sosok atau profil guru abad 21. Renungan ini tentu harus didasarkan pada ciri-ciri abad 21 atau kecenderungan yang perlu diantisipasi dari sekarang. Secara garis besar, abad 21 ditandai oleh arus globalisasi, yang membuat segala sesuatu akan menjadi mendunia. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menyebabkan setiap orang yang mempunyai akses kepada infonnasi akan mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia lain. Sejalan dengan itu, kemajuan teknologi yang bergemuruh akan menyebabkan sebagian besar tenaga manusia digantikan oleh mesin, yang menurut Toffler (1992) akan lebih banyak melakukan tugas rutin; sementara manusia akan lebih banyak bergelut dengan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kreatif. Perdagangan bebas yang menandai abad 21 membuat persaingan menjadi semakin ketat. Berbarengan dengan itu, berbagai usaha yang mengarah kepada penghancuran nilai-nilai/harkat manusia seperti penggunaan obat-obat terlarang, penyelundupan narkotika dan sejenisnya, kenakalan remaja, serta pencemaran lingkungan juga diperkirakan akan meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Dengan demikian, perubahan besar-besaran akan dan selalu terjadi, sehingga Toffler (1992) menyebut masa depan ,tersebut sebagai satu kejutan (future shock) terutama bagi orang orang yang sukar berubah. Secara singkat, abad mendatang akan ditandai oleh perubahan secara terus menerus yang terjadi di segala bidang. Untuk menghadapi tantangan seperti ini diperlukan manusia yang mampu menilai situasi secara kritis serta mampu mencari jalan sendiri dalam lingkungan baru, di samping mampu menemukan hubungan baru yang mungkin terjadi dalam kenyataan yang sedang berubah dengan cepat (Toffler, 1992). Berkaitan dengan ciri-ciri/tantangan di atas, dunia pendidikan juga harus mampu melakukan berbagai perubahan. Orientasi pendidikan Tidak lagi hanya ke masa lampau atau masa kini, tetapi lebih terfokus ke masa depan karena individu masa depan akan menghadapi perubahan yang lebih cepat lagi daripada sekarang. Oleh karena itu, sasaran utama pendidikan haruslah diletakkan pada peningkatan cope-ability (kemampuan menanggulangi) setiap individu yang dibarengi dengan peningkatan kecepatan dan efisiensi dalam adaptasinya terhadap perubahan yang terjadi secara terus menerus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Toffler (1992). Artinya, agar mampu bertahan hidup (survive), setiap orang harus secara cepat dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Agar peningkatan kemampuan ini dapat berlangsung, setiap individu juga harus mampu membuat asumsi, prediksi, atau ramalan tentang perubahan yang akan terjadi. Tentu saja kemampuan membuat asumsi, prediksi, atau ramalan tersebut didasarkan pada. pengalaman/pengetahuan masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu, semestinya orientasi baru ini tidak mengabaikan masa lalu dan masa sekarang; sebaliknya, kedua masa tersebut merupakan acuan yang berharga dalam mempersiapkan individu masa depan. Sehubungan dengan perubahan orientasi pendidikan yang berfokus ke masa depan, struktur persekolahan juga perlu dipertanyakan kembali. Apakah setiap orang harus menempuh pendidikan formal lewat sekolah ataukah lebih bijaksana jika pendidikan sekolah hanya diperuntukkan bagi mereka yang memerlukan saja, khususnya untuk bidang-bidang yang tidak dapat dipelajari sendiri? Jika pun sekolah masih tetap dianggap sebagai pusat pendidikan, berbagai perubahan juga harus dilakukan. Siswa harus diberi kesempatan untuk berperan lebih aktif, baik dalam bentuk simulasi, eksplorasi, atau kesempatan untuk menghayati/belajar dari kehidupan nyata, sehingga terbuka peluang baginya untuk berlatih membuat prediksi dan menanggulangi satu situasi. Metode ceramah harus, dikurangi, diimbangi dengan metode lain, yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berperan lebih aktif, seperti seminar dan pengahayatan pengalaman yang direncanakan. Hal ini sesuai dengan paradigma baru dunia pendidikan yang menekankan pada pendekatan yang berorientasi pada siswa (student oriented approach), bukan pendekatan yang berfokus pada guru (Brodjonegoro, 1999). Dengan demikian, fokus kegiatan pembelajaran adalah siswa, bukan guru. Untuk mengantisipasi kecenderungan dan orientasi pendidikan seperti diuraikan di atas, seorang guru seyogyanya memenuhi berbagai persyaratan, dengan asumsi bahwa pendidikan pada abad 21 masih akan berlangsung di sekolah. Hal ini perlu ditegaskan karena bertitik tolak dari kecenderungan masa depan yang diuraikan oleh Toffler, sekolah sebagai tempat pendidikan masih dipertanyakan. Dengan demikian, dalam renungan ini, uraian tentang profil guru masa depan masih dilandasi oleh asumsi bahwa sekolah masih merupakan salah satu pusat berlangsungnya pendidikan. Sehubungan dengan itu, sosok atau profil guru abad 21 kurang lebih dapat digambarkan sebagai berkut. Secara umum, sebagaimana diungkapkan oleh Tilaar (1995), pada masa Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, masyarakat tidak dapat lagi menerima guru yang tidak profesional. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Unesco, yang ditekankan pada tiga tuntutan yaitu: (1) guru harus dianggap sebagai pekerja profesional yang memberi layanan kepada masyarakat, (2) guru dipersyaratkan menguasai ilmu dan keterampilan spesialis, serta (3) ilmu dan keterampilan tersebut diperoleh dari pendidikan yang mendalam dan berkelanjutan (Tilaar, 1995). Bertitik tolak dari rekomendasi tersebut serta profil guru pada saat ini, seyogyanya guru pada abad 21 benar-benar merupakan guru yang profesional, agar mampu menghadapi tantangan abad 21. Untuk itu, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial seorang guru perlu dikembangkan sehingga mampu mendidik siswa yang mempunyai kemampuan memprediksi dan menanggulangi. Kompetensi kepribadian menuntut guru agar mampu menjadi panutan bagi siswa dan masyarakat. Manusia yang takwa, berbudi luhur, bersikap kritis, menjunjung tinggi kode etik guru, mampu bekerja sama, menghormati sesama, mengembangkan diri, dan sejumlah ciri-ciri kepribadian lain perlu dimodelkan oleh guru bagi para siswanya. Kemampuan profesional yang terutama berlandaskan pada penguasaan bahan ajaran, pemahaman karakteristik peserta didik, landasan kependidikan, serta belajar dan pembelajaran, ditunjukkan guru ketika merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, guru dituntut agar mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan karena suasana seperti itu merupakan sugesti positif yang mampu membuat "pemercepatan belajar" atau yang disebut sebagai accelerated learning, yang didefinisikan sebagai hal yang memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, serta dibarengi kegembiraan (De Porter & Hernacki, 1999, hal. 14). Suasana yang nyaman dan menyenangkan merupakan faktor penting yang merangsang fungsi otak yang paling efektif Oleh karena. itu, jika siswa merasa nyaman dan senang dalam belajar, mereka akan terpacu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis seperti menganalis atau menilai situasi dan mengembangkan berbagai prediksi atau asumsi berdasarkan hasil analisis/penilaian tersebut.Akhirnya, kompetensi sosial harus mampu diperagakan oleh guru ketika melakukan interaksi profesional atau interaksi personal dengan teman sejawat dan masyarakat Ciri-ciri keprofesionalan dalam memberikan layanan ahli yang berpangkal pada kemampuan mengambil keputusan perlu dipertajam. Secara singkat, guru masa depan diharapkan mampu membuat suasana belajar menjadi suasana yang nyaman dan menyenangkan serta mampu memodelkan apa yang diharapkan dari para siswanya, seperti ia sendiri harus mampu menilai situasi secara kritis, memprediksi apa yang akan terjadi, dan kemudian mencoba menanggulangi situasi yang dihadapi. Di sisi lain, tugas-tugas guru yang bersifat profesional harus ditunjang oleh sistem penghargaan yang membetahkan, sehingga guru mampu memfokuskan diri pada peningkatan kualitas layanan yang diberikan. Hal ini sejalan dengan kriteria pekerjaan profesional yang menyebutkan bahwa guru berhak mendapat imbalan yang layak. Imbalan yang layak bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk penghargaan/rasa segan/hormat masyarakat terhadap guru. Jika penghargaan/imbalan ini masih terabaikan, citra guru profesional tidak akan muncul, yang ada adalah guru siluman- pahlawan tanpa tanda jasa, yang tidak diperhitungkan oleh masyarakat. Berbagai usaha untuk memberdayakan guru Untuk mewujudkan profil guru yang diinginkan pada abad mendatang, berbagai usaha perlu dilakukan. Menyimak hasil analisis profil guru pada saat ini (Wardani, 1998), tampaknya ciri-ciri keprofesionalan guru masih belum banyak terwujud. Berbagai hasil penelitian (Jiyono, 1992; Nielson, D., dkk, 1996; Nasoetion, 1996; &Wardani, 1996) menunjukkan bahwa kinerja guru masih belum sesuai dengan harapan, baik dalam hal penguasaan materi ajaran maupun dalam pengelolaan pembelajaran. Proses belajar mengajar yang masih banyak didominasi guru, kurangnya kemampuan dan kesadaran guru untuk memfasilitasi dan menumbuhkan dampak pengiring, menyebabkan siswa lebih banyak bergulat dengan bahan hapalan daripada mempertanyakan, memprediksi, atau memecahkan masalah. Citra guru yang masih rendah menyebabkan pekerjaan sebagai guru bukan merupakan pilihan utama, sehingga yang ingin menjadi guru, sebagian besar bukan putra terbaik bangsa. Kondisi ini didukung oleh sangat rendahnya kesejahteraan guru, sehingga guru tidak mampu memfokuskan perhatian pada tugas-tugasnya karena harus mencari pekerjaan sambilan untuk menghidupi keluarga. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, usaha untuk memberdayakan guru haruslah mencakup dua aspek, yaitu aspek yang terkait dengan kemampuan dan aspek yang terkait dengan kesejahteraan guru. Kedua aspek ini harus mendapat penanganan yang proporsional dan memadai, sebab kalau terjadi ketimpangan, profil guru yang dikehendaki juga tidak mungkin terwujud. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, seperti adanya Pemantapan Kerja Guru (PKG) yang kemudian menjadi Musyawarah Guru Bidang Studi (MGBS), penataran/pelatihan berkala, serta pemberian kesempatan untuk melanjutkan studi, (misalnya yang terjadi secara besar-besaran untuk meningkatkan kualifikasi guru SD dan guru SUP). Demikian pula upaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru telah pernah dilakukan meskipun secara terbatas, misalnya dengan pemberian tunjangan fugsional guru serta pemberian insentif bagi guru daerah terpencil. Namun, tampaknya usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang memadai karena pengamatan lapangan serta hasil-hasil penelitian masih menunjukkan adanya kinerja guru yang di bawah standar dan mutu lulusan SD, SLTP, SLTA yang masih dipertanyakan. Oleh karena itu, haruslah dicari upaya yang mampu mengatasi kelemnahan yang terjadi. Beberapa upaya yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, memperbaiki sistem rekrutmen calon guru, sehingga dapat dijaring calon guru yang memang benar-benar berminat dan mampu menjadi guru. Dalam hal ini, ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) khusus untuk calon mahasiswa yang ingin menjadi guru harus disertai dengan tes minat dan penampilan. Di samping itu, asal daerah calon guru juga harus dijadikan salah satu pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa, sehingga daerah-daerah yang memang memerlukan tambahan guru mendapat prioritas dalam penerimaan calon mahasiswa. Kedua, meningkatkan kemampuan dan minat membaca guru dan calon guru, dapat dilakukan dengan memberi tugas-tugas membaca yang disertai tagihan yang jelas bagi calon guru dan para guru yang sedang mengikuti pelatihan. Di samping itu, penerbitan jurnal, pengembangan perpustakaan sekolah dengan buku-buku yang mutakhir dan menarik, serta perlombaan menulis bagi para guru perlu digalakkan sehingga guru tertarik untuk membaca. Pengumpulan buku bekas dari para dermawan dapat dilakukan untuk mengisi perpustakaan. Jika minat membaca guru sudah meningkat, diharapkan kemampuannya juga akan meningkat, sehingga berdampak positif bagi penguasaan materi ajaran. Ketiga, membudayakan diskusi ilmiah bagi para guru dan calon guru. Para calon guru secara berkala diwajibkan untuk melaksanakan diskusi ilmiah/seminar topik-topik yang menarik perhatiannya, terutarna topik-topik yang paling mutakhir yang berkaitan dengan mata kuliah tertentu. Para guru dapat didorong metakukan diskusi ilmiah secara berkala pula, misalnya setiap bulan atau menjelang peristiwa tertentu seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, dan Hari Anak-anak. Topik diskusi dapat dikaitkan dengan peristiwa yang sedang berlangsung atau topik-topik yang berkaitan dengan pembelajaran/masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugasnya. Dalam kaitan ini, lomba menulis artikel dapat mendukung berlangsungnya diskusi ilmiah, dengan cara meminta pemenang menyajikan artikelnya. Upaya ini akan mempunyai nilai tambah karena, wawasan guru akan berkembang, di samping mereka juga akan mendapat kredit untuk kenaikan jabatan. Keempat, menyajikan model, baik bagi calon guru maupun bagi para guru. Model merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan. keterampilan serta nilai dan sikap, baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa. De Porter & Hernacki (1999) juga menyebutkan bahwa model memegang peran penting dalam. pembentukan perilaku dan kepribadian seseorang. Mengelola pembelajaran menuntut berbagai keterampilan yang harus ditampilkan guru ketika mengajar. Namun, sering sekali terjadi guru tidak menguasai keterampilan tersebut karena ketika berada, di bangku pendidikan guru, mereka tidak mendapat latihan yang memadai, di samping mungkin tidak pernah menyaksikan pemodelan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, berbagai strategi mengajar yang mampu membuat siswa belajar aktif dan menumbuhkan dampak pengiring di samping dampak instruksional perlu dimodelkan oleh dosen, tutor, dan pelatih/penatar. Selain itu, hubungan kolegial yang akrab, sehat dan saling menghargai akan dapat dikembangkan oleh guru, jika dosen, tutor, dan penatar mampu memodelkannya. Penyajian model hendaknya, disertai dengan latihan yang memadai karena penguasaan keterampilan hanya dapat dilakukan melalui latihan. Kelima, mendorong guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Action Research), yang sudah mulai digalakkan oleh lembaga pendidikan guru. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tampaknya merupakan sesuatu yang menjanjikan dalam usaha pemberdayaan guru karena merupakan "self reflective inquiry" (Stephen Kemmis, dalam. Hopkins, D., 1993 dan McNiff, J., 1992) yang dilakukan guru di dalam kelas untuk memperbaiki praktik pembelajaran serta meningkatkan pemahaman guru terhadap praktik tersebut. Berbeda dengan praktik pembelajaran sehari-hari yang dilakukan guru, PTK mendorong guru mengenal/menyadari masalah yang dihadapinya, kemudian merencanakan upaya untuk mengatasinya. Upaya tersebut dilakukan secara eksplisit dan sistematis yang mengacu kepada kaidah-kaidah penelitian (Raka Joni, 1998). Inilah yang mencirikan PTK sebagai "systematic inquiry made public". Jika PTK diarahkan dan dikerjakan dengan benar, ia akan mampu mendorong guru terlibat secara aktif dalam pembelajaran yang dikelolanya, di samping mampu mendorong guru menempatkan diri sebagai peneliti di kelasnya sendiri. Keenam, membenahi program penataran/pelatihan guru dengan cara memfokuskan pada kebutuhan guru serta menghindari ketumpangtindihan. Untuk membuat guru mampu menghadapi tantangan abad 21, penataran/pelatihan guru harus difokuskan pada kebutuhan guru, yang berdasarkan hasil-hasil penelitian dan pengamatan informal berkisar pada dua aspek yaitu penguasaan materi ajaran dan mengelola interaksi di dalam kelas. Di samping itu, program penataran/pelatihan juga harus memberi kesempatan kepada guru untuk berlatih memecahkan masalah/menanggulangi situasi, yang semuanya ini dapat dikaitkan dengan mengelola interaksi di dalam kelas. Dalam hal ini, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dilatihkan sebagai wahana untuk mengenal masalah serta merencanakan pemecahannya melalui berbagai langkah. Agar penataran guru tidak tumpang tindih, berbagai instansi yang menyelenggarakan penataran perlu melakukan koordinasi sehingga kemubaziran dari segi dana dan daya dapat dihindari. Dari segi kesejahteraan guru, yang dalam hal ini sangat berkaitan erat dengan sistem imbalan yang membetahkan, ada beberapa hal yang dapat diusahakan. Pertama, hentikan segala pungutan liar yang sering dikenakan kepada guru, sehingga gaji guru yang sudah kecil tidak bertambah kecil lagi. Kedua, sudah saatnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meninjau ulang tunjangan fungsional bagi guru, meskipun keadaan ekonomi negara sedang dalam krisis. Kenaikan tunjangan fungsional diharapkan dapat memacu guru untuk memfokuskan diri pada tugas-tugasnya, sehingga layanan yang diberikannya menjadi semakin handal dan aman. Ketiga, memberi penghargaan kepada guru yang berprestasi, yang didasarkan pada penilaian masyarakat dan siswa, yang dapat dilakukan di tingkat kabupaten dan propinsi secara. berkala. Penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan citra guru di mata masyarakat. Keempat, untuk meningkatkan citra, tampaknya HARI GURU yang selama ini dirayakan setiap tanggal 25 November, perlu diberi makna yang lebih khusus, agar gemanya dapat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan yang digelar akan lebih bermakna jika diisi dengan hal-hal yang mampu meningkatkan citra guru, seperti memamerkan karya-karya siswa yang berprestasi dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja, memamerkan hasil karya guru yang berprestasi, mengadakan gelar wicara antar guru di televisi, atau menyelenggarakan bakti sosial yang berkaitan dengan tugas guru. Dengan usaha-usaha tersebut diharapkan pilar kedua profesionalisme, yaitu pengakuan dan penghargaan dari masyarakat, dapat terwujud. Implikasi bagi Universitas Terbuka Sehubungan dengan usaha-usaha di atas, apa yang harus dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT) sebagai perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan melalui Sistem Belajar Jarak Jauh (SBJJ)? Pertanyaan ini sangat erat kaitannya dengan peran UT, terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dalam menyelenggarakan pendidikan guru, khususnya bagi para guru yang ingin meningkatkan kemampuan dan kualifikasinya. Jika dilihat dari jumlah lulusan guru yang sudah dihasilkan, yang sampai tahun 1998 hampir mencapai 280 ribu orang, setiap orang pasti setuju bahwa UT mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualifikasi guru. Namun, apakah UT cukup berpuas diri dengan jumlah lulusan yang demikian besar? Di satu sisi mungkin ya, namun di sisi lain, secara jujur harus dijawab tidak. Berbagai keluhan yang terjadi di lapangan membuat UT harus berusaha keras menjawab berbagai tantangan. Lebih-lebih untuk mewujudkan sosok guru abad 21 seperti yang sudah diuraikan di atas, masih banyak yang perlu diusahakan oleh UT. Dengan perkataan lain, implikasi renungan tentang sosok guru abad 21 sangat luas dan menyeluruh, yaitu menuntut UT untuk berbenah diri dalam semua komponen program, mulai dari rekrutmen mahasiswa sampai pelulusan. Jelas hal ini membawa dampak bagi semua komponen di UT, baik di pusat maupun di daerah. Sistem rekrutmen mahasiswa yang bersifat terbuka dan dilakukan dari jarak jauh sering menimbulkan masalah karena kekurangakuratan persyaratan administratif yang diminta sehingga menimbulkan masalah ketika mahasiswa hampir lulus. Hal ini perlu diantisipasi dengan kecermatan yang tinggi dari petugas registrasi. Jika selama ini, para guru hanya boleh mengambil program studi yang sesuai dengan bidang studinya, sudah saatnya UT memikirkan untuk membuka program bagi semua guru tanpa memandang latar belakang formal bidang studi, kecuali jenjang latar belakang pendidikan terakhir, yaitu tamatan SLTA. Dengan cara ini, UT membuka peluang bagi guru untuk mengikuti segala perkembangan/perubahan yang akan terjadi secara terus-menerus, dan kerumitan persyaratan rekrutmen dapat dikurangi. Sejalan dengan perbaikan sistem rekrutmen, program pendidikan guru juga perlu dibenahi. Program-program sertifikat atau penawaran mata kuliah yang sangat relevan bagi guru, misalnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) perlu dipertimbangkan pengembangannya. Cara ini akan memungkinkan guru mengambil mata kuliah yang memang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional tanpa harus terikat pada. pencapaian kualifikasi tertentu. Selanjutnya, program pendidikan lanjut seperti Sl PGSD dan Pascasarjana Kependidikan perlu secepatnya direalisasikan. Dalam waktu dekat barangkali Program SI PGSD perlu diusahakan pembukaannya. Program pendidikan lanjut ini akan memberi peluang bagi para guru dari SD sampai SLTA untuk terus belajar sehingga akan tersedia kesempatan untuk membina kemampuan memprediksi dan menanggulangi. Kemampuan yang terbentuk ini kernmudian dapat dimodelkan oleh para guru di depan kelas. Berkaitan dengan pembenahan program pendidikan guru, pelayanan kepada mahasiswa juga perlu ditingkatkan, terutama dalam bidang pelayanan akademik. Proses pembelajaran yang selama ini lebih banyak diserahkan kepada mahasiswa dan pengelola di daerah, perlu dibenahi oleh UT, baik di pusat maupun di daerah sehingga pembentukan kemampuan profesional. guru mendapat. penanganan yang memadai. Dalam hal ini, mata kuliah yang paling rawan untuk dibenahi adalah Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) serta mata kuliah yang mempersyaratkan praktik. PKM merupakan muara program yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan segala kemampuan yang telah diperoleh dari berbagai mata kuliah ke dalam pembelajaran di kelasnya sendiri. Oleh karena itu, program ini harus benar-benar dapat meyakinkan bahwa guru yang sedang menjadi mahasiswa sempat mengamati model yang benar serta mendapat kesempatan berlatih yang memadai. Untuk keperluan ini kolaborasi dengan sekolah, lembaga pendidikan guru setempat, serta instansi yang membina guru perlu ditingkatkan. Selanjutnya UT perlu merancang program ini dengan cermat serta mengadakan latihan yang memadai bagi para tutor dan supervisor PKM, sehingga mereka benar-benar dapat memodelkan pendekatan yang berorientasi kepada siswa (student oriented approach). Kaset-kaset video yang memuat perilaku guru yang efektif dalam mengajar sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan perlu dikembangkan. Kaset video ini dapat dijadikan model yang diharapkan dapat mendorong guru untuk memperbaiki kinerjanya. Terakhir, dalam bidang ujian, ada dua hal mendasar yang perlu dibenahi. Pertama, menyangkut sistem ujian, terutama bentuk ujian yang lebih didominasi oleh tes objektif. Tes objektif pada umumnya tidak dapat mengukur kemampuan yang bersifat keterampilan, apalagi sikap dan nilai, sehingga untuk menilai kernampuan profesional seorang guru, semestinya porsi tes objektif tidak terlampau besar. Oleh karena itu, perlu. dipikirkan cara lain untuk menilai kemampuan para guru yang sedang menjadi mahasiswa. Cara tersebut tentu harus sesuai dengan ciri UT yang menyelenggarakan pendidikan melalui SBJJ dengan jumlah mahasiswa ratusan ribu, di samping harus sesuai dengan paradigma baru pendidikan tinggi yang menekankan pada pendekatan yang berorientasi pada siswa dan penilaian yang didasarkan pada indikator penampilan (Brodjonegoro, 1999). Salah satu kemungkinan untuk menanggulangi masalah ini adalah memperluas desentralisasi penilaian terutama bagi mata kuliah yang memper.syaratkan keterampilan. Selanjutnya, dalam penentuan kelulusan, porsi kemampuan melaksanakan tugas sebagai guru perlu dipertimbangkan kembali, sehingga guru yang lulus dari satu program benar-benar merupakan lulusan yang berkualitas. Aspek kedua yang perlu dibenahi adalah aspek moral, yang sangat erat kaitannya dengan cara pemecahan aspek yang pertama. Moral merupakan aspek yang paling menentukan keberhasilan program, namun paling sukar dibenahi. Untuk menjaga kualitas (yang juga merupakan salah satu paradigma baru. pendidikan tinggi), semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan di UT, dari pegawai terendah sampai pimpinan puncak, baik di pusat maupun di daerah, demikian pula para personil dari instansi mitra UT harus menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap peningkatan kualitas lulusan UT. Kejujuran dan keberanian mempertahankan kebenaran merupakan kunci keberhasilan. Tanpa itu, kualitas guru, yang merupakan lulusan UT, tidak akan mampu menghadapi tantangan abad 21 karena perubahan yang dipersyaratkan memang tidak terjadi pada dirinya. Daftar Rujukan BrodJonegoro, S. S. (1999). Management Change in University toward 21" Century: The Indonesian Policy. International Seminar Proceedings. Jakarta: Higher Education Project, Ministry of Education and Culture. Brameld, Th. (1965). Education as Power. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc. Darling-Hammond, L. & Goodwin, A. L. (1993). Progress toward Professionalism in Teaching Dalam: G. Cawelti (ed). Challenges and Achievements of American Education, The 1993 ASCD Year Book. Alexandria: ASCD. De Porter, B. & Hemacki, M. (1999). Quantum Learning. (Penerjemah: Alwiyah Abdurachman). Bandung: Penerbit Kaifa. Hopkins, D. (1993). A Teacher's Guide to Classroom Reseach. Buckingham: Open University Press. Jiono. (1992). Laporan Penelitian Kemampuan / Pemahaman Guru tentang IPA dan Sarana Pelajaran IPA di SMP. Jakarta: Balitbang-Dikbud. Konsorsium llmu Pendidikan. (1993). Profesionalisasi Jabatan Guru: tawaran dan tantangannya. Jakarta: Konsorsium llmu Pendidikan. McNiff, J. (1992). Action Research: Principles and Practice. London: Routledge. Nasoetion, N. (1996). Laporan Pendidikan IPA dan Teknologi di SMP. (Naskah disajikan pada Seminar Dies Natalis UT, 28 Agustus 1996). Nielson, D; Somerset, A.; Mahadi, R. & Wardani, I G. A. K. (1996). Sthrengthening Teacher Competency and Student Learning. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Raka Joni, Prof Dr. T. (1989). Mereka Masa Depan, Sekarang. Tantangan bagi Pendidikan dalam Menyongsong Abad Informasi. (Ceramah Ilmiah: disampaikan dalam Upacara Dies Natalis XXXV, Lustrum VII IKIP Malang, 18 Oktober 1989). _______(1998). Hasil Telaah 6 Usulan PTK PPGSD. (makalah disiapkan untuk _______(1998). Pengembangan Model Kurikulum Program DII PGSD: antara kajian akademik vs pengembangan program. (naskah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Model Kurikulum Program Pendidikan Diploma Tenaga Kependidikan (DII PGSD) Tahun 1998/1999). Jakarta: Pubang Kurandik- Balitbang Dikbud, 6-7 Agustus 1998. _______ (ed). (1992). Pokok-pokok Pikiran Mengenai Pendidikan Guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan. Riel, M. (1998). Teaching and Learning in the Educational Communities of the Future. Dalam: Christ Dede (ed). ASCD Year Book 1998. Pp. 171-195. Alexandria: ASCD. Surat Keputusan Menpan No. 26 / Menpan / 1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tilaar, H. A. R. (1995). Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995: Suatu Analisis Kebijakan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Toffler, A. (1992). Future Shock (Kejutan Masa Depan). Alih Bahasa: Dra. Sri Koesdiyatinah SB. Jakarta: PT Panca Simpati. Wardani, I G. A. K. (1996). Pemantapan Kemampuan Guru dan Belajar Siswa. (Naskah disajikan pada Seminar Dies Natalis UT, 28 Agustus 1996). ______(1998). Pemberdayaan Guru: suatu usaha peningkatan mutu pendidikan. (Orasi Ilmiah, disampaikan dalam Upacara Dies Natalis XIV UniversitasTerbuka, Jakarta: 14 September 1998). Zumwalt, K. (1989). Beginning Professional Teachers: the Need for a Curricular Vision for Teaching. Dalam M. C. Reynold (ed). Knowledge Base for Beginning Teachers. Pp. 173 -184. New York: Pergamon Press. |
SUDAHKAH UPAYA INOVASI PENDIDIKAN MEMPENGARUHI PROSES PEMBELAJARAN?
Pendahuluan
Penulis ingin menyampaikan sekelumit pengalaman sebagai salah seorang yang sejak tahun tujuh puluhan ikut serta dalam kegiatan teknis pengembangan pendidikan Depdikbud, yang sekarang namanya Balitbang Diknas. Pengalaman ini kiranya dapat memperkaya wawasan pihak-pihak tertentu yang barangkali kurang mengikuti perkernbangan sebagian dari upaya inovasi pendidikan, khususnya di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Di lain pihak kekurangan dalam tulisan ini tidak mustahil dapat diperkaya dan disempurnakan oleh para pernbaca sehingga upaya inovasi pendidikan, khususnya proses pernbelajaran di dalam kelas selama enam Pelita tercatat secara baik, dan dapat dijadikan rujukan dalam melanjutkan pembaharuan pendidikan pada waktu yang akan datang.
Sejak Pelita I sampai sekarang telah banyak kegiatan inovasi pendidikan yang menyangkut proses pembelajaran dibiayai melalui proyek pembangunan, namun penulis memilih kegiatan di mana keterlibatan penulis di dalamnya cukup berarti. Kegiatan dimaksud antara lain dalam pelaksanaan Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D), Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), Proyek Pemantapan Kerja Guru (PKG), Proyek Bantuan Profesional Kepada Guru SD (dikenal dengan CBSA), dan Proyek Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional. (Pekerti). Kegiatan kelima proyek ini menitik beratkan pada peningkatan proses pernbelajaran di samping penyempurnaan aspek pendidikan yang lain, seperti: peningkatan kualitas buku pelajaran (M), pengembangan sistem pendidikan dan bahan ajar (PPSP), peningkatan wawasan guru (PKG), dan peningkatan hubungan guru - kepala sekolah pemilik (CBSA).
Melihat pada keberadaan proyek di atas dapat dikatakan bahwa pembenahan proses pembelajaran ini telah dimulai sejak 25 tahun yang lalu. Perubahan apakah yang terjadi dalam proses pembelajaran, bagaimana perubahan itu terjadi, dan apakah perubahan tersebut sudah terjadi di kelas pada jenjang Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, maupun Pendidikan Tinggi pada saat ini? Semuanya akan dapat dicermati melalui uraian di bawah ini.
Mengapa proses pembelajaran?
Kelima proyek seperti yang telah dikemukakan tersebut menitikberatkan kegiatannya dalam peningkatan proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa melalui pembelajaran dapat dibentuk manusia Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No.2, tahun 1989 yaitu, "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan".
Sebenarnya jauh sebelum diberlakukannya UU tersebut, baik pada setiap GBHN maupun periode sebelum Pelita, tujuan pendidikan sudah digariskan antara lain pada awal kemerdekaan. Menteri Pengajaran pada tahun 1945, yaitu Ki HaJar Dewantara, menyebutkan bahwa "Pengajaran harus memberikan segala ilmu pengetahuan dan kepandaian umum yang perlu atau berguna bagi hidup dan batin murid-murid dan pelajar-pelajar kelas sebagai warga negara dan sebagai anggota masyarakat dengan dasar kekeluargaan". Beberapa tahun kemudian beliau menulis dalam mingguan Nasional yang isinya bahwa dalam diri manusia terdapat tiga kekuatan (trisakti). Bilamana tiga kekuatan ini dapat disatukan, maka terciptalah manusia yang berbudi dan beradab. Ketiga kekuatan tersebut adalah daya pikir (cipta), gerak-gerik hati (rasa), dan perbuatan/tindakan (karsa.).
Selanjutnya tujuan pendidikan yang tercanturn pada. setiap butir GBHN selalu mencantumkan ketiga. kekuatan tersebut sebagaimana. juga tujuan pendidikan dalam UU Sistem pendidikan nasional yang dikutip di atas. Tiga. kekuatan tersebut sesuai dengan tiga ranah (domain) yang dikembangkan oleh Bloom dengan kawan-kawannya yang dikenal dengan Taxonomy of Educational Objectives, yaitu pendidikan bertujuan untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Berdasarkan pada tujuan pendidikan yang disebutkan di atas, maka dalam setiap proses pembelajaran, guru (tenaga pendidik) mengernban tugas untuk mengembangkan ketiga ranah tersebut. Akan sangat keliru kalau seorang pendidik/pengajar beranggapan bahwa tugasnya hanya sebatas mencerdaskan peserta didik, lebih parah lagi kalau tingkat kecerdasan (kognitif) yang dilatihkan hanya pada jenjang ingatan dan pernaharnan. Bukankah di atas keduajenjang tersebut masih ada 4 jenjang lagi yang mernbawa anak didik pada taraf berpikir kritikal, logis, dan marnpu menyelesaikan masalah (problem solving).
Memperhatikan tujuan pendidikan nasional tersebut dan membandingkannya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas atau dalam perkuliahan menimbulkan berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang timbul adalah: Dengan proses pembelajaran sebagaimana yang berlangsung di lapangan, mungkinkah dihasilkan manusia Indonesia yang:
- beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa?
- berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, percaya diri, produktif, berorientasi masa depan dan beretos kerja?
- memiliki rasa cinta tanah air, semangat kebangsaan, dan kesetiakawanan sosial serta menghargai jasa para pahlawan bangsa dan patriotik?
- cerdas, inovatif, kreatif, dan profesional? serta
- sehat jasmani dan terarnpil menggunakan panca inderanya?
Untuk mengurangi kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan, maka sejak Pelita 1 pemerintah telah membuat proyek pada setiap jenjang pendidikan. Kesenjangan ini sudah diantisipasi sejak dini. Karena motivasi masyarakat untuk belajar sangat tinggi, maka pengadaan guru harus dilakukan secara darurat, antara lain dengan pengangkatan guru SD dari lulusan SD ditambah 1 tahun, dan pengangkatan guru SMP dari lulusan SLTA ditambah 2 minggu, serta guru SLTA dari lulusan SLTP ditambah 1 atau 2 tahun.
Upaya pemerintah pembelajaran dalam peningkatan kualitas Pembelajaran
Kelima proyek yang berupaya memperbaiki kualitas pernbelajaran untuk meningkatkan kualitas lulusan yang, dibutuhkan oleh kegiatan pembangunan tidak dimulai pada waktu yang bersamaan. Secara garis besar, selang waktu dilaksanakannya kelima proyek tersebut seperti digambarkan dalarn Gambar 1.
Gambar 1. Pelaksanaan Proyek Peningkatan Kualitas Pembelajaran
Setiap proyek selalu dimulai dengan tahapan uji-coba. Lama uji-coba bervariasi, sesuai dengan sifat program yang dikembangkan. Misalnya: uji-coba PPSP, memakan waktu yang paling panjang karena yang diuji-cobakan termasuk sistem
pendidikan SD-SMP-SMA. Setelah 10 tahun uji-coba, barulah dapat diambil kebijakan yang mengatakan proyek PPSP terpaksa dihentikan dan tidak dapat disebarluaskan, kecuali untuk komponen-komponen tertentu. Lain halnya dengan PEKERTI yang menguji-cobakan bahan pembelajaran yang akan digunakan, uji-cobanya hanya memerlukan waktu beberapa bulan.
Uraian ringkas mengenai tujuan setiap proyek, baik dari sudut pelaksanaan, hasil, maupun putusan kebijaksanaan dalam rangka penyebaran (diseminasi) hasil proyek adalah sebagai berikut.
1. Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D)
Proyek ini dimulai pada tahun 1973 dan berakhir pada pertengahan dekade delapan puluhan. Dalam perjalanannya, kegiatan nama proyek berubah menjadi Proyek Pembinaan Sekolah Dasar (P2SD). Tujuan proyek adalah meningkatkan kualitas lulusan SD dengan sasaran utama untuk:
- Menghasilkan buku pegangan guru dan murid (buku teks) untuk setiap mata pelajaran pokok di SD. Pada masa pra pelaksanaan proyek, sekolah belum menggunakan buku teks yang sama di semua, SD. Selain murid belum mampu membeli buku pelajaran, kualitas isi buku tersebut sangat beragam dari wilayah ke wilayah lain. Diharapkan pada akhir kegiatan proyek semua murid di SD akan memiliki buku teks dengan cara meminjam untuk setiap mata pelajaran di setiap kelas.
- Melaksanakan penataran bagi guru SD di seluruh Indonesia. Materi penataran disesuaikan dengan materi, metoda, media dan penilaian buku teks yang akan digunakan secara nasional. Pada saat tertentu Kepala Sekolah, Penilik, dan pejabat di atasnya juga mengikuti penataran.
Buku teks SD dikembangkan melalui tahap uji coba di beberapa kabupaten yang tersebar di Indonesia seperti Lampung, Kuningan, Bone, dan Kodya Yogyakarta. Naskah buku ini dikembangkan oleh para pakar yang membidanginya, kemudian disempurnakan sesuai dengan masukan yang diperoleh dari lapangan. Guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan uji-coba semuanya mengikuti penataran yang berkenaan dengan uji-coba tersebut.
Sementara menyelesaikan tugas pengembangan buku teks dan persiapan penataran guru SD, pemerintah melaksanakan suatu penelitian eksperimental yang membandingkan pengaruh buku teks dan pengaruh penataran terhadap hasil belajar murid SD. Penelitian ini menunjukkan bahwa baik penataran maupun buku teks memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan buku pelajaran yang digunakan pada waktu. itu dan guru yang belum pernah ditatar. Dengan hasil ini pemerintah berketetapan untuk mendistribusikan buku teks Bahasa Indonesia, IPA, Matematika dan IPS kepada semua murid SD dengan cuma-cuma. Begitu juga penataran dilaksanakan dengan cara guru inti ditatar di pusat, kemudian guru inti tersebut menatar guru-guru lain di masing-masing daerahnya.
Karena berbagai kendala seperti distribusi buku paket yang terlambat, jumlah buku teks yang tidak sesuai dengan jumlah murid, buku paket mengandung konsep dan pendekatan yang tidak seperti yang biasa dilakukan, kurang berfungsinya sistem penghargaan dan sangsi, terlebih lagi adanya dua pengelola di SD yaitu Depdagri dan Depdikbud, timbul beberapa masalah, antara lain:
- buku teks hampir tidak digunakan peserta didik tetapi disimpan di lemari, dan diganti dengan buku pelajaran karangan perorangan yang diterbitkan oleh pihak swasta; dan
- proses pembelajaran kembali pada proses pembelajaran biasa yang menekankan pada proses berpikir rendah,
kurang memperhatikan pengembangan hati nurani, dan hampir tidak ada demonstrasi atau praktikum untuk pelajaran IPA.
Bukti bahwa proses pembelajaran menekankan hanya pada proses berpikir rendah dapat dilihat pada, Tabel 1 yang mencantumkan proses berpikir yang diukur pada berbagai ujian.
Tabel 1. Aspek Berpikir yang Diukur Pada Berbagai Ujian
| Tahun | Jenis Ujian | % Aspekerfikiryang | Keterangan | |||
| C1 | C2 | C3 | C4,5,6 | |||
| 1993 | Sumatif Cawu 1 IPA K1s.VI | 100 | - | - | - | Kabupaten XYZ, Jawa Barat |
| 1997 | Contoh Soal EBTANAS-SD | 84 | 16 | - | - | Korcil Republika 25 Mei1997 |
2.Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) mulai melaksanakan kegiatannya pada tahun 1974 dan berakhir sekitar tahun 1984. Proyek ini merupakan pilot project di delapan IKIP Negeri. PPSP berupaya untuk menemukan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Dalam kegiatan sehari-hari dicobakan berbagai konsep seperti konsep belajar tuntas, maju berkelanjutan, belajar mandiri, dan belajar sesuai dengan kecepatan individual. Sebagai media pembelajaran digunakan modul yang dilengkapi dengan lembaran-lembaran pendukungnya seperti Lembaran Kerja, Lembaran Evaluasi, Modul Pengayaan dan Modul Remidiasi. Hasil positif PPSP antara lain adalah lulusannya gemar membaca, mereka yang cerdas dapat menyelesaikan studinya 1/2 - 2 tahun lebih cepat, tingkat penguasaan materi
lebih mantap, serta terampil bekerja di laboratorium, dan/atau bengkel. Pelaksanaan tujuan pendidikan di PPSP diterapkan tidak hanya mengenai ranah kognitif, tetapi juga psikomotor dan afektif Hasil pembelajaran diukur secara cermat, tes hasil belajar, skala sikap dan pedoman observasi untuk keterampilan telah dikembangkan dan ada yang sudah dibakukan.
Konon kabarnya proyek ini tidak dapat didesiminasikan karena menurut pertimbangan para. pengambil keputusan, sekolah ini eksklusif dan cukup mahal. Namun demikian berbagai konsep yang positif, secara parsial telah diterapkan pada kurikulum 1986. Konsep yang diterapkan antara lain belajar tuntas, penggunaan modul ' dan belajar mandiri di SMP Terbuka. Pengalaman PPSP int juga memberi inspirasi pada pengembangan program pendidikan di Universitas Terbuka. Hal yang dipertanyakan adalah kalau alasan di atas menyebutkan PPSP eksklusif dan mahal, bagaimana dengan SMU unggulan yang berkembang akhirakhir ini? Kalau pada masa lampau PPSP adalah laboratorium pendidikan bagi IKIP, setelah 10 tahun kemudian. IKIP/FKIP diminta bermitra keda(partnership) dengan sekolah, suatu hal yang menarik untuk dicermati. Perangkat alat ukur, modul dan bahan pendukungnya sebagai produk/hasil PPSP tidak ditindak lanjuti, sepertinya karya ilmiah tersebut hilang tidak tentu rimbanya.
3. Proyek Pemantapan Kerja Guru (PKG)
Kegiatan. proyek PKG ini dimulai pada tahun 1980 oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum), yang pada mulanya ditujukan untuk guru matematika, IPA dan Bahasa Inggris. Namun pada akhimya proyek ini meliputi semua guru mata pelajaran pokok di lingkungan Dikmenum. Tujuan proyek ini adalah untuk:
a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan cara:
- meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap kurikulum 1975;
- meningkatkan kemarnpuan mereka dalam menganalisis konsep dan prinsip;
- memperkenalkan kepada mereka bahan pengajaran baru dan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan keterampilan yang lebih finggi;
- meningkatkan keterampilan mereka dalam menganalisa butir soal dan mengkualifikasikan soalsoal; serta
- meningkatkan kemarnpuan mereka dalam menggunakan tes untuk bennacam-macain tujuan.
b. Mengubah sikap guru mengenai peranan mereka di kelas dengan melibatkan siswa, dan mengubah pendekatan dari teacher dominated approach kestudent centre approach.
c. Meningkatkan keterampilan guru dalam kelas dengan cara :
- membiasakan mereka dengan bemacam-macam metode mengajar;
- meningkatkan keterampilan dalam merencanakan pelajaran;
- meningkatkan keterampilan dalam menggunakan alat bantu belajar-mengajar;
- meningkatkan kesadaran dan kemampuan untuk menghadapi dan menangani keperluan perorangan siswa;
- meningkatkan keterampilan dalam menggunakan teknik bertanya; serta
- meningkatkan motivasi
d. Meningkatkan kemampuan guru IPA dengan cara:
- meningkatkan organisasi laboratorium sekolah, fasilitas penyimpanan dan keselamatan;
- memikirkan dan merencanakan situasi belajar melalui demonstrasi kelas dan eksperimen-eksperimen; serta
- menerapkan prinsip IPA dalam kehidupan sehari
Pada dua tahun pertama kegiatan penataran dilaksanakan dengan cara in dan on-service training yang lamanya 16 minggu (dua minggu pertama in, minggu ketiga sampai dengan minggu keempat belas on, dan dua minggu terakhir in lagi). Proyek banyak melibatkan tenaga dosen dari berbagai Perguruan Tinggi seperti ITB, yang berfungsi sebagai konsultan. Pada waktu on service training para konsultan turun ke sekolah membimbing dan membina peserta penataran dalam melaksanakan pembelajarannya.
Pada akhir tahun 1984 dilaksanakan suatu evaluasi sumatif untuk melihat keberhasilan PKG khususnya untuk bidang studi IPA (di SMA Biologi, Kimia, dan Fisika dan di SMP Biologi dan Fisika). Evaluasi sumatif ini dilaksanakan oleh tim eksternal untuk memperoleh hasil yang objektif. Laporan evaluasi menunjukkan bahwa proyek ini berhasil tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru mengajar IPA tetapi juga membawa dampak positif bagi peserta didik baik di tingkat SMP maupun SMA. Hal ini terbukti dari hasil "Tugas Praktikum Kelompok" yang berhasil lebih baik yang dikerjakan oleh peserta didik yang guru-gurunya telah ditatar melalui PKG dibandingkan dengan peserta didik yang gurunya belum mengikuti penataran.
Perlu juga dicatat di sini bahwa sementara proyek penataran ini berlangsung, juga berlangsung proyek pengadaan sarana dan prasarana (seperti laboratorium) bagi SMP dan SMA. Demikian juga upaya perubahan kegiatan proyek dilaksanakan agar dalam waktu yang tidak terlalu lama semua guru bidang studi pokok sudah mengikuti penataran minimal satu putaran.
Namun sementara waktu berjalan, terjadi pula perubahan kegiatan, antara lain: sebagian guru mengikuti penataran di PKG, yang lain di SPKG (Sanggar Pemantapan Kerja Guru yang berlokasi di ibukota propinsi dan ibukota kabupaten) dan pada tahun sembilan puluhan banyak penataran dilaksanakan dalam wadah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pelaksanaan penataran di SPKG dan MGMP dilakukan oleh instruktur yang telah pernah mengikutipenataran PKG satu atau dua kali, waktunya sehari dalam seminggu selama 12 hari kerja.
Pada awal tahun 1996, Dikmenum memberikan tugas kepada penulis untuk melihat pelaksanaan pembelajaran IPA di SMP. Daerah yang dikunjungi adalah Jawa Timur dan Surnatera Selatan. Ada 11 SMP Negeri dan Swasta yang dikunjungi mewakili sekolah favorit, sekolah biasa, dan sekolah kurang. Hasil observasi menunjukkan bahwa:
Dalain pembelajaran guru mendominasi kegiatan, berarti telah menyimpang dari tujuan PKG semula, atau guru sudah kembali pada pembelajaran tradisional. Alat dan bahan yang ada di laboratorium kurang dipelihara, kotor, rusak labelnya, terbiar begitu saja. Guru kurang berminat untuk mendemonstrasikan peristiwa-peristiwa IPA, apalagi melakukan eksperimen. Sarana, peralatan dan bahan tidak atau kurang dimanfaatkan. Dengan kata lain berbeda dengan suasana pembelajaran pada periode PKG.
Penekanan dalam pembelajaran ditujukan pada ranah kognitif pada jenjang berpikir rendah (ingatan, permahaman dan sedikit penerapan). Tidak heran kalau distribusi proses berpikir yang ditanyakan pada berbagai jenis ujian masih didominasi oleh proses berpikir rendah seperti tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Aspek Kognitif pada Berbagai Jenis Ujian
No. | Jenis Ujian | Aspek berfikir yang di kur (%) | Bentuk Tes | |||
| C1 | C2 | C3 | C4, 5, 6 | |||
| 1. | Ebtanas | 70,0 | 11,0 | 19,0 | - | Pilihan Berganda |
| 2. | Ujian Semester 5 | 66,0 | 14,0 | 20,0 | - | Pilihan Berganda |
| 3. | Ujian Sekolah X (1996) | 74,7 | 8,3 | 16,7 | - | Campuran Pilihan |
| 4. | Ujian Sekolah Y (1996) | 50,0 | 10,0 | 40,0 | - | Berganda danUraian Uraian |
Kebanyakan guru IPA yang dikunjungi telah mengikuti penataran IPA, sekitar 43% diantaranya telah dua kali mengikuti penataran, 27,6% telah pernah mengikuti PKG satu atau dua kali.
Guru inti/instruktur penataran kurang mampu mengaktifkan guru peserta MGMP. Ada kesan bahwa guru inti bukan mendekati peserta tetapi menjauhi peserta baik individual maupun kelompok. Kelompok dibiarkan menyelesaikan tugasnya baik mengembangkan bahan tertulis untuk pembelajaran ataupun pada pelaksanaan teaching practice. Pada waktu observasi dilaksanakan, instruktur tidak- pernah memberi masukan/komentar kepada kegiatan kelompok maupun individual. Ruang penataran adalah ruang kelas biasa yang berisi meja, kursi, dan papan tulis. Kesan suasana belajar tentang IPA tidak terlihat sama sekali. Suatu pekerjaan yang sulit untuk gemar pada sesuatu yang bendanya tidak pernah dilihat, apalagi dipegang atau dioperasikan.
Menurut jadwal penataran selama 12 hari pertemuan, sebagian besar waktu (73,2%) digunakan untuk membuat persiapan tertulis seperti analisis materi pembelajaran, lembar kerja siswa, dan rencana pembelajaran. Sedangkan waktu untuk proses pembelajaran hanya 14,6%. Ini berarti keterampilan proses pada pembelajaran IPA kurang dilatihkan. Wajar kalau mereka enggan melaksanakan kegiatan demonstrasi maupun eksperimentasi di kelas.
Penataran 12 kali dengan tujuan seperti yang disebutkan di atas terutarna yang berkenaan dengan meningkatkan keterampilan mengajar maupun keterampilan dernonstrasi, dan eksperimentasi IPA dilakukan dalarn ruang kelas biasa sehingga peserta kurang tertnotivasi dan terangsang untuk ingin tahu, ingin berbuat sesuatu, dan selanjutnya timbul pertanyaan mengapa demikian. Bukankah rangsangan tidak harus selalu datang dari instruktur tetapi juga dari suasana lingkungan. belajar.
Pada awal kegiatan PKG, semua tujuan proyek telah dapat dicapai sebagaimana dilaporkan. dalam evaluasi sumatif, antara lain ditemukan bahwa peserta penataran tidak hanya meningkat ilmu pengetahuannya tetapi juga keterampilannya dalam melaksanakan demonstrasi dan berbagai eksperimen. Hasil penataran guru telah berhasil diterapkan pada peserta didik, sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga terarnpil menggunakan berbagai alat dan bahan di laboratorium. Disarnping itu, kegiatan kelornpok telah dapat dikernbangkan dengan baik, ini berarti ranah afektif seperti kerja sama, tenggang rasa, tanggung jawab, disiplin, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya telah dapat dipupuk dan dikernbangkan. Namun kegiatan PKG ini lamna kelamaan luntur seiring dengan berlalunya waktu dan adanya perubahan pelaksanaan penataran sehingga pada saat sekarang ini,investment pemerintah baik melalui pengadaan laboratorium dengan peralatannya maupun kegiatan penatarannya, belum menunjukkan dampak yang seirnbang dengan investment tersebut. Justru ada gejala yang menunjukkan bahwa pembelajaran menjurus ke arah tradisional.
5. Proyek bantuan profesional kepada guru SD
Di atas telah diuraikan Proyek Pemantapan Kerja Guru yang sasarannya adalah guru bidang studi pokok di SMP- dan SMA. Pada waktu yang hampir bersamaan pemerintah dalam hal ini Balitbang Dikbud dan Ditjen Dikdasmen melaksanakan satu proyek dengan nama Bantuan Profesional kepada guru-guru SD yang kernudian lebih terkenal dengan nama proyek CIANJUR atau CBSA Cianjur. Proyek ini memulai kegiatannya pada tahun 1980 dan berakhir kira-kira 10 tahun kemudian. Sebagaimana proyek inovasi lainnya, CBSA Cianjur dimulai dengan status uji coba di tiga kecamatan yang melibatkan 60 SD Negeri. Tujuan proyek ini adalah:
meningkatkan kemampuan dan keterampilan Penilik Sekolah sehubungan dengan pembinaan bantuan dan pelayanan profesional kepada para Kepala Sekolah dan Guru-,
meningkatkan kemampuan dan keterampilan Kepala Sekolah sehubungan dengan pemberian bantuan dan pelayanan profesional kepada guru-guru;
meningkatkan kemampuan. dan keterampilan profesional guru-guru-, serta
meningkatkan mutu proses belajar mengajar sebagai sasaran antara. guna pencapaian tujuan yaitu. meningkatnya mutu pendidikan.
Strategi yang digunakan untuk mencapai keempat tujuan di atas adalah:
a. Mengolah materi kurikulum sehingga mudah dipahami oleh peserta didik di SD,
b. Mengubah sikap dan perilaku sehingga pembelajaran diarahkan pada:
- cara Belajar Siswa Aktif
- cara belajar berkelompok, individual, dan ada kalanya klasikal
- belajar antarmurid
c. Menggunakan alat pelajaran yang:
- alami, benda nyata
- dibuat sendiri (guru atau murid)
- terdapat dalam lingkungan sendiri
Setelah proyek mulai menunjukkan keunggulannya, banyak sekolah di sekitar Cianjur dan Jakarta berkunjung ke lokasi proyek untuk melihat dari dekat apa yang mereka lakukan dalam pembelajaran. Kunjungan oleh sekolah, yayasan, dan pejabat semakin gencar setelah berbagai surat kabar di Jakarta memuat berita-berita tentang CBSA. Suara Karya tanggal 28 Agustus 1984 memuat artikel dengan judul: "Sistem belajar yang baru ini menghasilkan. orang yang bersikap kritis, berani bicara dan juga aktif dan kreatif ''. Berita Buana tanggal 27 Agustus 1984 juga memberitakan: "Di SD-SD Cianjur dapat dilihat sistem mengajar yang lebih membantu anak didik untuk mengembangkan daya pikirnya".
Setelah uji coba berlangsung 4 tahun, Balitbang Dikbud menugaskan penulis untuk menginventarisasi inovasi yang terjadi di proyek tersebut khususnya pelaksanaan pembelajaran. Kajian inovasi dikhususkan pada pembelajaran IPA di kelas VI. Sebelum kajian ini dimulai, penulis telah banyak mengikuti pertemuan antar penilik, antar kepala sekolah dan antar guru yang terlibat dalam proyek CBSA. Dalarn mengembangkan maupun menerapkan program, guru, kepala sekolah dan penilik memiliki kerjasama yang baik. Status dalam birokrasi tidak mendominasi kegiatan, namun sebaliknya kreativitas lebih menentukan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam pengembangan bahan pembelajaran yang dihadiri ketiga unsur: guru, kepala sekolah, dan penilik, dapat terjadi guru lebih mendominasi pembicaraan dari pada dua unsur lainnya. Hal semacam ini lumrah dalam proyek CBSA. Semua kegiatan pembelajaran berpedoman pada kurikulum 1975 namun penjabarannya dirundingkan oleh guru kelas bersama kepala sekolah dan penilik. Guru yang terlibat dalam proyek ini mengadakan pertemuan periodik di Pusat Kegiatan Guru (PKG). Pusat ini berlokasi di salah satu SD. Di pusat inilah guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang harus diberikan, yang berkenaan dengan materi, metode, alat bantu pembelajaran dan jenis tes yang harus diberikan baik sebagai pre-test maupun untuk post-test. Guru membuat sendiri atau mencari sendiri alat bantu pembelajaran yang paling sesuai dan yang membawa kesan dan mudah dipahami peserta didik. Kegiatan mencari dan membuat sendiri alat dan bahan yang diperlukan akan langsung meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan inderanya. Disamping itu, dampak positifnya terhadap pembelajaran memungkinkan guru untuk menyampaikan berbagai alternatif kegiatan yang menuju ke satu tujuan dalam pembelajaran.
Hasil pengamatan selama pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas VI pada kurun waktu November 1984 sampai dengan awal Januari 1985 menunjukkan bahwa pembelajaran telah menggarap ketiga ranah: kognitif, afektif dan psikomotoris. Peserta didik menghayati benar ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, sambil menambah ilmu pengetahuan, keterampilan mereka dibina dan dikembangkan. Begitu juga unsur kepribadiannya diarahkan pada tindakan yang positif. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa: Dengan cara belajar yang dikembangkan di Cianjur khususnya pelajaran IPA tidak hanya murid mengerti karena mereka kerjakan sesuai dengan semboyan "Saya Kedakan Saya Mengerti"; tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah tercapainya suatu situasi belajar IPA yang mampu meningkatkan keterampilan mereka baik dalam menggunakan alat dan bahan, menggunakan semua indera, membuat penafsiran, membuat ramalan, menggunakan konsep, merancang kegiatan yang berbau penelitian dan menulis laporan. Selain itu terciptanya suatu sikap positif dalam berbagai aspek seperti terbinanya kerja sama dalam kelompok, adanya ketekunan dalam mengerjakan tugas, adanya tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan tugas, berkemnbangnya semangat kerja yang tinggi, serta berkembangnya semangat bergotong royong untuk menanggulangi sesuatu masalah dan terbinanya minat belajar yang cukup tinggi.
Dalam satu kegiatan yang berjudul "Makanan Kita", guru memberi tugas untuk memilah-milah berbagai jenis makanan sesuai dengan tempat tumbuhnya, di sawah atau ladang/kebun. Guru meminta kelompok membawa berbagai jenis makanan dari rurnah dan juga mernbawa alat-alat yang diperlukan untuk membuat pajangan dinding. Jenis bahan makanan yang dibawa mereka antara lain, sayur-sayuran (kol, sawi, kangkung, buncis, daun singkong, bayarn, tornat), kedondong, pisang, jagung, kacang tanah, kacang hijau, beras, singkong, ubi rambat, bangkuang dan sebagainya. Sedangkan jenis alat yang dibawa antara lain: gunting, penjepit, lem, lilin, spidol, pisau dapur, pisau cukur (silet), kantong plastik dan sebagainya. Dalam proses pembuatan pajangan dengan menggunakan bahan dan alat tersebut, mereka tidak canggung menggunakan alat, mereka mernilih dengan tepat bahan dan alat yang sesuai. Mereka secara spontan dapat memilih apakah harus menggunakan lem atau hecht machine untuk melekatkan sesuatu. Pada ternpat yang terbatas dengan mudah mereka mengatur letak bahan-bahan yang akan dipajang (dipamerkan) sehingga sernua terlihat dengan rapi dan teratur. Tugas ini dikerjakan bersama di dalam kelompok. Anggota kelompok kelihatan terampil mengerjakan tugasnya.
Keberhasilan mengembangkan kemampuan peserta didik sebagaimana, tercantum dalam tujuan pendidikan nasional diakhiri dengan adanya kebijaksanaan pemerintah bahwa CBSA di SD dihentikan karena adanya penyimpangan yang kurang sesuai dengan prinsip tertentu. Konon kabarnya prinsip tersebut antara lain, kelas terdengar ribut karena adanya diskusi kelompok, anggota kelompok tidak selalu menghadap ke papan tulis sehingga ada dugaan dapat berakibat badan miring, mata juling, dan sebagainya. Selain dari pada itu, ada sekolah yang bergegas untuk melaksanakan CBSA tanpa memperhatikan konsep dasar yang mendasarinya yaitu antara lain adanya persiapan yang mantap bagi guru, kepala sekolah, dan penilik setempat.
6. Program Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI)
Program Pekerti dicanangkan oleh Dikti untuk meningkatkan kualitas, pembelajaran dosen muda di perguruan tinggi. Sebelum program Pekerti telah ada sejumlah program peningkatan kualitas pembelajaran bagi dosen senior yaitu program P3G, program Akta-V, dan program Applied Aproach (A-A). Uraian tentang peningkatan kualitas pembelajaran di perguntan tinggi dibatasi pada program Pekerti di mana penulis diikutsertakan sebagai salah seorang penatar nasional untuk mata tataran Evaluasi Hasil Belajar. Pengelolaan Program Pekerti dipercayakan Dikti kepada PAU-PPAI-UT. Dalam pengembangan program PAU-PPAI-UT dilibatkan Tim Inti AA dari beberapa, PT Negeri.
Tujuan Pekerti secara khusus -antara lain, peserta diharapkan akan:
menghasilkan suatu Rancangan Mengajar Jangka Panjang untuk satu semester yang disebut GBPP;
menghasilkan seperangkat Rencana Mengajar Jangka Pendek untuk setiap pertemuan yang disebut Satuan Acara Pengajaran (SAP); serta
memiliki keterampilan mengajar.
Untuk mencapai tujuan di atas para dosen muda mengikuti pelatihan tatap muka selama 6 hari (48 jam) dan magang pada dosen senior selama satu semester. Materi yang diberikan pada pelatihan tatap muka adalah:
Prinsip Belajar dan Pembelajaran;
Rancangan Instruksional;
Penilaian Hasil Belajar; dan
Praktek Mengajar.
Setelah program ini beroperasi 3 tahun, penelitian
tahap I telah dilaksanakan dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan: "Masalah apa yang dihadapi dosen muda dalam mempersiapkan proses perkuliahan, melaksanakan perkuliahan, dan mengevaluasi perkuliahan?" Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen muda yang telah mengikuti pelatihan tatap muka dan mengikuti magang dengan dosen senior telah mulai memperlihatkan adanya perubahan tradisi dalam pembelajaran walaupun belum maksimal; penguasaan materi pembelajaran sudah baik, adanya variasi penyampaian perkuliahan dengan memanfaatkan media, meningkatkan interaksi tanya jawab, dan memberikan latihan dan tugas-tugas.
Secara khusus pengalaman penulis dalam mengerakan latihan mengenai pengembangan tes baik bentuk uraian maupun bentuk objektif, para peserta belum terbiasa membuat soal yang sifatnya mengukur proses berpikir tinggi seperti aspek analisis, sintesis, dan evaluasi. Mereka cenderung membuat soal ingatan. Kecenderungan ini tentu tidak lepas dari kebiasaan dalam pelaksanaan pembelajaran. Kebiasaan inilah yang menggiring mereka sehingga sukar untuk mengembangkan soal yang mengukur proses berpikir tinggi. Kiranya latihan pembelajaran melalui pemecahan masalah, atau membawa kasus yang riil dalam masyarakat ke dalam perkuliahan perlu ditingkatkan frekuensinya.
Sebenarnya program Pekerti tidak hanya diminati oleh dosen muda di perguruan tinggi negeri, namun juga diminati oleh perguruan tinggi swasta, dan berbagai Diklat yang berstatus negeri, BUMN, dan swasta.
Rangkuman dan harapan
Dalam masa pembangunan telah ada. sejumlah proyek pemerintah yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Proyek-proyek lahir pada waktu yang berbeda, ada yang lahir beberapa Repelita kemudian. Peningkatan kualitas ini telah diupayakan di tingkat Pendidikan Dasar yaitu P3D/P2SD, PPSP dan CBSA khususnya di SD, di tingkat Pendidikan Menengah (PPSP dan PKG), dan di tingkat Pendidikan Tinggi yaitu Proyek P3G,Applied Approach, dan Pekerti. Upaya peningkatan yang telah dilaksanakan tidak terbatas pada ranah kognitif tetapi juga pada ranah afektif dan ranah psikomotor. Upaya ini telah berhasil dilihat dari berbagai sisi, namun ada penglihatan lain yang menyebabkan kegiatan ini tidak dapat dilanjutkan walaupun dengan mengadakan penyesuaian.
Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar selain membenahi proses pembelajaran juga menghasilkan buku teks yang harus digunakan dalam kegiatan sehari-hari di kelas. Dampak pembenahan ini di lapangan masih jauh dari harapan karena kebanyakan guru SD masih mendominasi kegiatan dalam kelas, murid dijadikan sebagai pendengar yang baik. Buku teks yang sudah memiliki kualitas yang baik, digantikan oleh buku pelajaran yang kurang mendukung tercapainya tujuan pendidikan di SD.
Pendekatan yang digunakan oleh proyek untuk melaksanakan peningkatan kualitas pembelajaran ini tidak sama. Proyek PPSP meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembaharuan sistem pendidikan dasar dan menengah secara menyeluruh seperti penjenjangan SD-SMP-SMA menjadi 5-3-3, adanya maju berkelanjutan, belajar tuntas, belajar dengan menggunakan modular, dan menitikberatkan pada, belajar mandiri/kelompok. Proyek PKG dan Proyek Pekerti meningkatkan kualitas pembelajaran dengan meningkatkan kualitas kemampuan para pendidik (guru dan dosen). Sedangkan proyek CBSA upaya peningkatan kualitas pembelajaran diawali dengan mengubah persepsi para pengelola pendidikan SD di tingkat yang paling rendah yaitu Kepala Sekolah dan Penilik.
Ada kegiatan yang telah berhasil di proyek yang satu karena hal-hal tertentu tidak digunakan pada proyek yang lainnya walaupun kegiatan tersebut sangat erat kaitannya. Misalnya PPSP telah berhasil mengembangkan program pengayaan dan remediasi, proyek CBSA tidak menggunakan program ini walaupun dalam rencananya peserta didik yang lambat tempo belajamya harus dibantu oleh guru. Demikian juga dengan bahan bacaan, CBSA sangat terbatas pada buku, "Manusia dan Alam Sekitarnya", sedang di PPSP telah banyak modul-modul IPA.
Hasil-hasil positif yang telah dicapai masing-masing proyek, belum semuanya dimanfaatkan. Kenyataan menunjukkan bahwa ada hasil yang:
diteruskan dan disebarluaskan kegiatannya; misalnya Program Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dipelopori oleh PPSP dan Kurikulum 1975. Sampai sekarang di semua jenjang dan jenis pendidikan program ini tetap diharuskan pelaksanaannya.
menurut rencana akan diteruskan pelaksanaannya, namun dalam kenyataannya belum menjadi bagian dari sistem pendidikan, antara lain kegiatan belajar tuntas dan maju berkelanjutan.
diteruskan dengan berbagai penyesuaian, namun setelah ada penyesuaian, hasil kualitas pembelajaran semakin jauh dari hasil sebelum. ada penyesuaian, contohnya antara lain penyelenggaraan proyek PKG yang diubah menjadi SPKG dan akhirnya menjadi MGMP.
kurang mendapat dukungan dan dorongan dari Depdikbud (Depdiknas, sekarang), misaInya proyek CBSA, kegiatan praktek (di laboratoriurn IPA dan laboratoriurn bahasa) dan upaya-upaya pengembangan nilai dan sikap.
Seyogyanya semua hasil proyek yang telah dicapai selama ini baik berupa program, bahan pembelajaran, alat ukur, hasil pengukuran atau. laporan diarsipkan dengan baik dan dijadikan sebagai bahan pustaka.
Adanya upaya dari LPTK untuk menjadikan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini sebagai bahan kajian/bahan diskusi yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia. Dengan kata lain kelemahan-kelemahan yang pernah dialami tidak akan terulang pada waktu yang akan datang. Dengan maraknya pendirian sekolah unggulan akhir-akhir ini, pengalaman pada kelima proyek dijadikan referensi dan sedapat mungkin hasil yang positif dimanfaatkan sambil berupaya untuk mengadakan. penyernpurnaan.
Upaya yang lebih akademik dalam menentukan keberhasilan suatu kegiatan perlu ditumbuh suburkan. Pengalaman memberhentikan suatu kegiatan atas dasar pertimbangan birokrat tidak hanya menyepelekan semua sumber daya yang telah dikerahkan selama ini, tetapi juga mengecewakan banyak peserta didik dan orang tua murid/masyarakat.
Di satu masa pada akhir tahun tujuh puluhan dan awal tahun delapan puluhan hampir semua LPTK pemerintah memiliki sekolah laboratorium(Laboratorium School. Pada tahun 1985, semua LPTK tersebut "melepaskan" sekolahnya. Lima tahun kemudian pemerintah mengharuskan semua dosen LPTK harus memiliki pengalaman di sekolah dan pada saat ini sedang dikembangkan pula pola/model kemitraan antara LPTK dengan sekolah. Pada kurun waktu yang sama salah satu pemikiran bahwa PPSP harus dihentikan aktivitasnya adalah karena. sekolah tersebut: "ekslusif, mahal dan rumit pelaksanaannya". Bukankah sekolah unggulan. yang ada di setiap propinsi termasuk kategori yang demikian? Apakah kejadian seperti ini akan terjadi lagi pada era reformasi ini? Bukankah uraian di atas telah menyentuh hati untuk memikirkan reformasi pada proyek-proyek pendidikan yang akan datang?
Kalau lima contoh proyek di atas belum menunjukkan kegiatannya yang pada akhirnya bermuara pada pembaharuan proses pembelajaran, bagaimanakah dengan proyek-proyek lain yang jumlahnya sudah ratusan bahkan mungkin ribuan di lingkungan Depdikbud, adakah kesinambungannya, sudah jelaskah muara yang akan dituju? Barangkali ini termasuk pertanyaan penelitian yang oleh Lembaga Penelitian Pendidikan Depdiknas dapat menyusun jawabannya pada. waktu yang dekat ini.
Marilah kita. sebagai para pendidik, secara bersama-sama belajar dari pengalaman yang lalu untuk mengembangkan dan membina pendidikan yang lulusannya lebih mampu bersaing dalam abad kedua puluh satu yang akan datang.
Daftar pustaka
Bloom, B.S. (1977). Taxnomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. N.Y.: Longmans, Green and Co.
Eggleston, J. (1984). A. Summative Evaluation of PKG, Laporan Penilaian. Jakarta: Dikmenum.
Moch. Tauchid, dkk. (1962). Ki Hadfar Dewantara (Bagian Pertama, Pendidikan), Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Nasoetion, N. (1985). Proses Mengajar Bidang Studi IPA. Laporan Penelitian Bantuan Profesional Kepada Guru-guru Sekolah Dasar. Jakarta: Balitbang Dikbud.
______ (1996). Pendidikan IPA dan Teknologi di SMP, Laporan Penilaian. Jakarta: Dikmenum.
Pannen, P., dkk. (1997). Manfaat Keterampilan Dasar Teknik Instruksional Dosen Junior Dalam Proses Perkuliahan. Laporan Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka.
edijarto. (1981). Faktor-faktor yang Mempengaruhi KualitasProses Belajar dan Mutu Hasil Belajar Kelas Terakhir SD. Disertasi untuk mencapai derajat Doktor dalam Ilmu Pendidikan di IKIP Bandung.
Supeni, T. dan Admin Adjis. (1991). PKG Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Profesional Guru IPA. Disajikan pada Seminar Lokakarya Kebijakan Pendidikan IPA/Tugas Praktikum Kelompok di SMP dan SMA. Jakarta.
Undang-undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Tjiptosasmito, W., dkk. (1979). Report of the Monitoring and Evaluation of the Teacher Training Development Proyea, Laporan Penilaian. Jakarta: BP3K.