Senin, 27 September 2010

SUDAHKAH UPAYA INOVASI PENDIDIKAN MEMPENGARUHI PROSES PEMBELAJARAN?

Pendahuluan

Penulis ingin menyampaikan sekelumit pengalaman sebagai salah seorang yang sejak tahun tujuh puluhan ikut serta dalam kegiatan teknis pengembangan pendidikan Depdikbud, yang sekarang namanya Balitbang Diknas. Pengalaman ini kiranya dapat memperkaya wawasan pihak-pihak tertentu yang barangkali kurang mengikuti perkernbangan sebagian dari upaya inovasi pendidikan, khususnya di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Di lain pihak kekurangan dalam tulisan ini tidak mustahil dapat diperkaya dan disempurnakan oleh para pernbaca sehingga upaya inovasi pendidikan, khususnya proses pernbelajaran di dalam kelas selama enam Pelita tercatat secara baik, dan dapat dijadikan rujukan dalam melanjutkan pembaharuan pendidikan pada waktu yang akan datang.

Sejak Pelita I sampai sekarang telah banyak kegiatan inovasi pendidikan yang menyangkut proses pembelajaran dibiayai melalui proyek pembangunan, namun penulis memilih kegiatan di mana keterlibatan penulis di dalamnya cukup berarti. Kegiatan dimaksud antara lain dalam pelaksanaan Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D), Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), Proyek Pemantapan Kerja Guru (PKG), Proyek Bantuan Profesional Kepada Guru SD (dikenal dengan CBSA), dan Proyek Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional. (Pekerti). Kegiatan kelima proyek ini menitik beratkan pada peningkatan proses pernbelajaran di samping penyempurnaan aspek pendidikan yang lain, seperti: peningkatan kualitas buku pelajaran (M), pengembangan sistem pendidikan dan bahan ajar (PPSP), peningkatan wawasan guru (PKG), dan peningkatan hubungan guru - kepala sekolah pemilik (CBSA).

Melihat pada keberadaan proyek di atas dapat dikatakan bahwa pembenahan proses pembelajaran ini telah dimulai sejak 25 tahun yang lalu. Perubahan apakah yang terjadi dalam proses pembelajaran, bagaimana perubahan itu terjadi, dan apakah perubahan tersebut sudah terjadi di kelas pada jenjang Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, maupun Pendidikan Tinggi pada saat ini? Semuanya akan dapat dicermati melalui uraian di bawah ini.

Mengapa proses pembelajaran?

Kelima proyek seperti yang telah dikemukakan tersebut menitikberatkan kegiatannya dalam peningkatan proses pembelajaran. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa melalui pembelajaran dapat dibentuk manusia Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No.2, tahun 1989 yaitu, "Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan".

Sebenarnya jauh sebelum diberlakukannya UU tersebut, baik pada setiap GBHN maupun periode sebelum Pelita, tujuan pendidikan sudah digariskan antara lain pada awal kemerdekaan. Menteri Pengajaran pada tahun 1945, yaitu Ki HaJar Dewantara, menyebutkan bahwa "Pengajaran harus memberikan segala ilmu pengetahuan dan kepandaian umum yang perlu atau berguna bagi hidup dan batin murid-murid dan pelajar-pelajar kelas sebagai warga negara dan sebagai anggota masyarakat dengan dasar kekeluargaan". Beberapa tahun kemudian beliau menulis dalam mingguan Nasional yang isinya bahwa dalam diri manusia terdapat tiga kekuatan (trisakti). Bilamana tiga kekuatan ini dapat disatukan, maka terciptalah manusia yang berbudi dan beradab. Ketiga kekuatan tersebut adalah daya pikir (cipta), gerak-gerik hati (rasa), dan perbuatan/tindakan (karsa.).

Selanjutnya tujuan pendidikan yang tercanturn pada. setiap butir GBHN selalu mencantumkan ketiga. kekuatan tersebut sebagaimana. juga tujuan pendidikan dalam UU Sistem pendidikan nasional yang dikutip di atas. Tiga. kekuatan tersebut sesuai dengan tiga ranah (domain) yang dikembangkan oleh Bloom dengan kawan-kawannya yang dikenal dengan Taxonomy of Educational Objectives, yaitu pendidikan bertujuan untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Berdasarkan pada tujuan pendidikan yang disebutkan di atas, maka dalam setiap proses pembelajaran, guru (tenaga pendidik) mengernban tugas untuk mengembangkan ketiga ranah tersebut. Akan sangat keliru kalau seorang pendidik/pengajar beranggapan bahwa tugasnya hanya sebatas mencerdaskan peserta didik, lebih parah lagi kalau tingkat kecerdasan (kognitif) yang dilatihkan hanya pada jenjang ingatan dan pernaharnan. Bukankah di atas keduajenjang tersebut masih ada 4 jenjang lagi yang mernbawa anak didik pada taraf berpikir kritikal, logis, dan marnpu menyelesaikan masalah (problem solving).

Memperhatikan tujuan pendidikan nasional tersebut dan membandingkannya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas atau dalam perkuliahan menimbulkan berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang timbul adalah: Dengan proses pembelajaran sebagaimana yang berlangsung di lapangan, mungkinkah dihasilkan manusia Indonesia yang:

  1. beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa?
  2. berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, percaya diri, produktif, berorientasi masa depan dan beretos kerja?
  3. memiliki rasa cinta tanah air, semangat kebangsaan, dan kesetiakawanan sosial serta menghargai jasa para pahlawan bangsa dan patriotik?
  4. cerdas, inovatif, kreatif, dan profesional? serta
  5. sehat jasmani dan terarnpil menggunakan panca inderanya?

Untuk mengurangi kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan, maka sejak Pelita 1 pemerintah telah membuat proyek pada setiap jenjang pendidikan. Kesenjangan ini sudah diantisipasi sejak dini. Karena motivasi masyarakat untuk belajar sangat tinggi, maka pengadaan guru harus dilakukan secara darurat, antara lain dengan pengangkatan guru SD dari lulusan SD ditambah 1 tahun, dan pengangkatan guru SMP dari lulusan SLTA ditambah 2 minggu, serta guru SLTA dari lulusan SLTP ditambah 1 atau 2 tahun.

Upaya pemerintah pembelajaran dalam peningkatan kualitas Pembelajaran

Kelima proyek yang berupaya memperbaiki kualitas pernbelajaran untuk meningkatkan kualitas lulusan yang, dibutuhkan oleh kegiatan pembangunan tidak dimulai pada waktu yang bersamaan. Secara garis besar, selang waktu dilaksanakannya kelima proyek tersebut seperti digambarkan dalarn Gambar 1.

Gambar 1. Pelaksanaan Proyek Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Gambar 1. Pelaksanaan Proyek Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Setiap proyek selalu dimulai dengan tahapan uji-coba. Lama uji-coba bervariasi, sesuai dengan sifat program yang dikembangkan. Misalnya: uji-coba PPSP, memakan waktu yang paling panjang karena yang diuji-cobakan termasuk sistem

pendidikan SD-SMP-SMA. Setelah 10 tahun uji-coba, barulah dapat diambil kebijakan yang mengatakan proyek PPSP terpaksa dihentikan dan tidak dapat disebarluaskan, kecuali untuk komponen-komponen tertentu. Lain halnya dengan PEKERTI yang menguji-cobakan bahan pembelajaran yang akan digunakan, uji-cobanya hanya memerlukan waktu beberapa bulan.

Uraian ringkas mengenai tujuan setiap proyek, baik dari sudut pelaksanaan, hasil, maupun putusan kebijaksanaan dalam rangka penyebaran (diseminasi) hasil proyek adalah sebagai berikut.

1. Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D)

Proyek ini dimulai pada tahun 1973 dan berakhir pada pertengahan dekade delapan puluhan. Dalam perjalanannya, kegiatan nama proyek berubah menjadi Proyek Pembinaan Sekolah Dasar (P2SD). Tujuan proyek adalah meningkatkan kualitas lulusan SD dengan sasaran utama untuk:

  • Menghasilkan buku pegangan guru dan murid (buku teks) untuk setiap mata pelajaran pokok di SD. Pada masa pra pelaksanaan proyek, sekolah belum menggunakan buku teks yang sama di semua, SD. Selain murid belum mampu membeli buku pelajaran, kualitas isi buku tersebut sangat beragam dari wilayah ke wilayah lain. Diharapkan pada akhir kegiatan proyek semua murid di SD akan memiliki buku teks dengan cara meminjam untuk setiap mata pelajaran di setiap kelas.
  • Melaksanakan penataran bagi guru SD di seluruh Indonesia. Materi penataran disesuaikan dengan materi, metoda, media dan penilaian buku teks yang akan digunakan secara nasional. Pada saat tertentu Kepala Sekolah, Penilik, dan pejabat di atasnya juga mengikuti penataran.

Buku teks SD dikembangkan melalui tahap uji coba di beberapa kabupaten yang tersebar di Indonesia seperti Lampung, Kuningan, Bone, dan Kodya Yogyakarta. Naskah buku ini dikembangkan oleh para pakar yang membidanginya, kemudian disempurnakan sesuai dengan masukan yang diperoleh dari lapangan. Guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan uji-coba semuanya mengikuti penataran yang berkenaan dengan uji-coba tersebut.

Sementara menyelesaikan tugas pengembangan buku teks dan persiapan penataran guru SD, pemerintah melaksanakan suatu penelitian eksperimental yang membandingkan pengaruh buku teks dan pengaruh penataran terhadap hasil belajar murid SD. Penelitian ini menunjukkan bahwa baik penataran maupun buku teks memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan buku pelajaran yang digunakan pada waktu. itu dan guru yang belum pernah ditatar. Dengan hasil ini pemerintah berketetapan untuk mendistribusikan buku teks Bahasa Indonesia, IPA, Matematika dan IPS kepada semua murid SD dengan cuma-cuma. Begitu juga penataran dilaksanakan dengan cara guru inti ditatar di pusat, kemudian guru inti tersebut menatar guru-guru lain di masing-masing daerahnya.

Karena berbagai kendala seperti distribusi buku paket yang terlambat, jumlah buku teks yang tidak sesuai dengan jumlah murid, buku paket mengandung konsep dan pendekatan yang tidak seperti yang biasa dilakukan, kurang berfungsinya sistem penghargaan dan sangsi, terlebih lagi adanya dua pengelola di SD yaitu Depdagri dan Depdikbud, timbul beberapa masalah, antara lain:

  1. buku teks hampir tidak digunakan peserta didik tetapi disimpan di lemari, dan diganti dengan buku pelajaran karangan perorangan yang diterbitkan oleh pihak swasta; dan
  2. proses pembelajaran kembali pada proses pembelajaran biasa yang menekankan pada proses berpikir rendah,

kurang memperhatikan pengembangan hati nurani, dan hampir tidak ada demonstrasi atau praktikum untuk pelajaran IPA.

Bukti bahwa proses pembelajaran menekankan hanya pada proses berpikir rendah dapat dilihat pada, Tabel 1 yang mencantumkan proses berpikir yang diukur pada berbagai ujian.

Tabel 1. Aspek Berpikir yang Diukur Pada Berbagai Ujian

TahunJenis Ujian

% Aspekerfikiryang
diukur

Keterangan

C1C2C3C4,5,6
1993Sumatif Cawu 1 IPA K1s.VI100

-

-

-Kabupaten
XYZ, Jawa
Barat
1997Contoh Soal
EBTANAS-SD
8416

-

-Korcil
Republika
25 Mei1997

2.Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)

Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) mulai melaksanakan kegiatannya pada tahun 1974 dan berakhir sekitar tahun 1984. Proyek ini merupakan pilot project di delapan IKIP Negeri. PPSP berupaya untuk menemukan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Dalam kegiatan sehari-hari dicobakan berbagai konsep seperti konsep belajar tuntas, maju berkelanjutan, belajar mandiri, dan belajar sesuai dengan kecepatan individual. Sebagai media pembelajaran digunakan modul yang dilengkapi dengan lembaran-lembaran pendukungnya seperti Lembaran Kerja, Lembaran Evaluasi, Modul Pengayaan dan Modul Remidiasi. Hasil positif PPSP antara lain adalah lulusannya gemar membaca, mereka yang cerdas dapat menyelesaikan studinya 1/2 - 2 tahun lebih cepat, tingkat penguasaan materi

lebih mantap, serta terampil bekerja di laboratorium, dan/atau bengkel. Pelaksanaan tujuan pendidikan di PPSP diterapkan tidak hanya mengenai ranah kognitif, tetapi juga psikomotor dan afektif Hasil pembelajaran diukur secara cermat, tes hasil belajar, skala sikap dan pedoman observasi untuk keterampilan telah dikembangkan dan ada yang sudah dibakukan.

Konon kabarnya proyek ini tidak dapat didesiminasikan karena menurut pertimbangan para. pengambil keputusan, sekolah ini eksklusif dan cukup mahal. Namun demikian berbagai konsep yang positif, secara parsial telah diterapkan pada kurikulum 1986. Konsep yang diterapkan antara lain belajar tuntas, penggunaan modul ' dan belajar mandiri di SMP Terbuka. Pengalaman PPSP int juga memberi inspirasi pada pengembangan program pendidikan di Universitas Terbuka. Hal yang dipertanyakan adalah kalau alasan di atas menyebutkan PPSP eksklusif dan mahal, bagaimana dengan SMU unggulan yang berkembang akhirakhir ini? Kalau pada masa lampau PPSP adalah laboratorium pendidikan bagi IKIP, setelah 10 tahun kemudian. IKIP/FKIP diminta bermitra keda(partnership) dengan sekolah, suatu hal yang menarik untuk dicermati. Perangkat alat ukur, modul dan bahan pendukungnya sebagai produk/hasil PPSP tidak ditindak lanjuti, sepertinya karya ilmiah tersebut hilang tidak tentu rimbanya.

3. Proyek Pemantapan Kerja Guru (PKG)

Kegiatan. proyek PKG ini dimulai pada tahun 1980 oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum), yang pada mulanya ditujukan untuk guru matematika, IPA dan Bahasa Inggris. Namun pada akhimya proyek ini meliputi semua guru mata pelajaran pokok di lingkungan Dikmenum. Tujuan proyek ini adalah untuk:

a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan cara:

  1. meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap kurikulum 1975;
  2. meningkatkan kemarnpuan mereka dalam menganalisis konsep dan prinsip;
  3. memperkenalkan kepada mereka bahan pengajaran baru dan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan keterampilan yang lebih finggi;
  4. meningkatkan keterampilan mereka dalam menganalisa butir soal dan mengkualifikasikan soalsoal; serta
  5. meningkatkan kemarnpuan mereka dalam menggunakan tes untuk bennacam-macain tujuan.

b. Mengubah sikap guru mengenai peranan mereka di kelas dengan melibatkan siswa, dan mengubah pendekatan dari teacher dominated approach kestudent centre approach.

c. Meningkatkan keterampilan guru dalam kelas dengan cara :

  1. membiasakan mereka dengan bemacam-macam metode mengajar;
  2. meningkatkan keterampilan dalam merencanakan pelajaran;
  3. meningkatkan keterampilan dalam menggunakan alat bantu belajar-mengajar;
  4. meningkatkan kesadaran dan kemampuan untuk menghadapi dan menangani keperluan perorangan siswa;
  5. meningkatkan keterampilan dalam menggunakan teknik bertanya; serta
  6. meningkatkan motivasi

d. Meningkatkan kemampuan guru IPA dengan cara:

  1. meningkatkan organisasi laboratorium sekolah, fasilitas penyimpanan dan keselamatan;
  2. memikirkan dan merencanakan situasi belajar melalui demonstrasi kelas dan eksperimen-eksperimen; serta
  3. menerapkan prinsip IPA dalam kehidupan sehari

Pada dua tahun pertama kegiatan penataran dilaksanakan dengan cara in dan on-service training yang lamanya 16 minggu (dua minggu pertama in, minggu ketiga sampai dengan minggu keempat belas on, dan dua minggu terakhir in lagi). Proyek banyak melibatkan tenaga dosen dari berbagai Perguruan Tinggi seperti ITB, yang berfungsi sebagai konsultan. Pada waktu on service training para konsultan turun ke sekolah membimbing dan membina peserta penataran dalam melaksanakan pembelajarannya.

Pada akhir tahun 1984 dilaksanakan suatu evaluasi sumatif untuk melihat keberhasilan PKG khususnya untuk bidang studi IPA (di SMA Biologi, Kimia, dan Fisika dan di SMP Biologi dan Fisika). Evaluasi sumatif ini dilaksanakan oleh tim eksternal untuk memperoleh hasil yang objektif. Laporan evaluasi menunjukkan bahwa proyek ini berhasil tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru mengajar IPA tetapi juga membawa dampak positif bagi peserta didik baik di tingkat SMP maupun SMA. Hal ini terbukti dari hasil "Tugas Praktikum Kelompok" yang berhasil lebih baik yang dikerjakan oleh peserta didik yang guru-gurunya telah ditatar melalui PKG dibandingkan dengan peserta didik yang gurunya belum mengikuti penataran.

Perlu juga dicatat di sini bahwa sementara proyek penataran ini berlangsung, juga berlangsung proyek pengadaan sarana dan prasarana (seperti laboratorium) bagi SMP dan SMA. Demikian juga upaya perubahan kegiatan proyek dilaksanakan agar dalam waktu yang tidak terlalu lama semua guru bidang studi pokok sudah mengikuti penataran minimal satu putaran.

Namun sementara waktu berjalan, terjadi pula perubahan kegiatan, antara lain: sebagian guru mengikuti penataran di PKG, yang lain di SPKG (Sanggar Pemantapan Kerja Guru yang berlokasi di ibukota propinsi dan ibukota kabupaten) dan pada tahun sembilan puluhan banyak penataran dilaksanakan dalam wadah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pelaksanaan penataran di SPKG dan MGMP dilakukan oleh instruktur yang telah pernah mengikutipenataran PKG satu atau dua kali, waktunya sehari dalam seminggu selama 12 hari kerja.

Pada awal tahun 1996, Dikmenum memberikan tugas kepada penulis untuk melihat pelaksanaan pembelajaran IPA di SMP. Daerah yang dikunjungi adalah Jawa Timur dan Surnatera Selatan. Ada 11 SMP Negeri dan Swasta yang dikunjungi mewakili sekolah favorit, sekolah biasa, dan sekolah kurang. Hasil observasi menunjukkan bahwa:

  1. Dalain pembelajaran guru mendominasi kegiatan, berarti telah menyimpang dari tujuan PKG semula, atau guru sudah kembali pada pembelajaran tradisional. Alat dan bahan yang ada di laboratorium kurang dipelihara, kotor, rusak labelnya, terbiar begitu saja. Guru kurang berminat untuk mendemonstrasikan peristiwa-peristiwa IPA, apalagi melakukan eksperimen. Sarana, peralatan dan bahan tidak atau kurang dimanfaatkan. Dengan kata lain berbeda dengan suasana pembelajaran pada periode PKG.

  2. Penekanan dalam pembelajaran ditujukan pada ranah kognitif pada jenjang berpikir rendah (ingatan, permahaman dan sedikit penerapan). Tidak heran kalau distribusi proses berpikir yang ditanyakan pada berbagai jenis ujian masih didominasi oleh proses berpikir rendah seperti tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Aspek Kognitif pada Berbagai Jenis Ujian

No.

Jenis Ujian

Aspek berfikir yang di kur (%)Bentuk Tes
C1C2C3C4, 5, 6
1.Ebtanas70,011,019,0-Pilihan Berganda
2.Ujian Semester 566,014,020,0-Pilihan Berganda
3.Ujian Sekolah X (1996)74,78,316,7-Campuran Pilihan
4.Ujian Sekolah Y (1996)50,010,040,0-Berganda danUraian
Uraian

  1. Kebanyakan guru IPA yang dikunjungi telah mengikuti penataran IPA, sekitar 43% diantaranya telah dua kali mengikuti penataran, 27,6% telah pernah mengikuti PKG satu atau dua kali.

  2. Guru inti/instruktur penataran kurang mampu mengaktifkan guru peserta MGMP. Ada kesan bahwa guru inti bukan mendekati peserta tetapi menjauhi peserta baik individual maupun kelompok. Kelompok dibiarkan menyelesaikan tugasnya baik mengembangkan bahan tertulis untuk pembelajaran ataupun pada pelaksanaan teaching practice. Pada waktu observasi dilaksanakan, instruktur tidak- pernah memberi masukan/komentar kepada kegiatan kelompok maupun individual. Ruang penataran adalah ruang kelas biasa yang berisi meja, kursi, dan papan tulis. Kesan suasana belajar tentang IPA tidak terlihat sama sekali. Suatu pekerjaan yang sulit untuk gemar pada sesuatu yang bendanya tidak pernah dilihat, apalagi dipegang atau dioperasikan.

  3. Menurut jadwal penataran selama 12 hari pertemuan, sebagian besar waktu (73,2%) digunakan untuk membuat persiapan tertulis seperti analisis materi pembelajaran, lembar kerja siswa, dan rencana pembelajaran. Sedangkan waktu untuk proses pembelajaran hanya 14,6%. Ini berarti keterampilan proses pada pembelajaran IPA kurang dilatihkan. Wajar kalau mereka enggan melaksanakan kegiatan demonstrasi maupun eksperimentasi di kelas.

  4. Penataran 12 kali dengan tujuan seperti yang disebutkan di atas terutarna yang berkenaan dengan meningkatkan keterampilan mengajar maupun keterampilan dernonstrasi, dan eksperimentasi IPA dilakukan dalarn ruang kelas biasa sehingga peserta kurang tertnotivasi dan terangsang untuk ingin tahu, ingin berbuat sesuatu, dan selanjutnya timbul pertanyaan mengapa demikian. Bukankah rangsangan tidak harus selalu datang dari instruktur tetapi juga dari suasana lingkungan. belajar.

Pada awal kegiatan PKG, semua tujuan proyek telah dapat dicapai sebagaimana dilaporkan. dalam evaluasi sumatif, antara lain ditemukan bahwa peserta penataran tidak hanya meningkat ilmu pengetahuannya tetapi juga keterampilannya dalam melaksanakan demonstrasi dan berbagai eksperimen. Hasil penataran guru telah berhasil diterapkan pada peserta didik, sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga terarnpil menggunakan berbagai alat dan bahan di laboratorium. Disarnping itu, kegiatan kelornpok telah dapat dikernbangkan dengan baik, ini berarti ranah afektif seperti kerja sama, tenggang rasa, tanggung jawab, disiplin, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya telah dapat dipupuk dan dikernbangkan. Namun kegiatan PKG ini lamna kelamaan luntur seiring dengan berlalunya waktu dan adanya perubahan pelaksanaan penataran sehingga pada saat sekarang ini,investment pemerintah baik melalui pengadaan laboratorium dengan peralatannya maupun kegiatan penatarannya, belum menunjukkan dampak yang seirnbang dengan investment tersebut. Justru ada gejala yang menunjukkan bahwa pembelajaran menjurus ke arah tradisional.

5. Proyek bantuan profesional kepada guru SD

Di atas telah diuraikan Proyek Pemantapan Kerja Guru yang sasarannya adalah guru bidang studi pokok di SMP- dan SMA. Pada waktu yang hampir bersamaan pemerintah dalam hal ini Balitbang Dikbud dan Ditjen Dikdasmen melaksanakan satu proyek dengan nama Bantuan Profesional kepada guru-guru SD yang kernudian lebih terkenal dengan nama proyek CIANJUR atau CBSA Cianjur. Proyek ini memulai kegiatannya pada tahun 1980 dan berakhir kira-kira 10 tahun kemudian. Sebagaimana proyek inovasi lainnya, CBSA Cianjur dimulai dengan status uji coba di tiga kecamatan yang melibatkan 60 SD Negeri. Tujuan proyek ini adalah:

  1. meningkatkan kemampuan dan keterampilan Penilik Sekolah sehubungan dengan pembinaan bantuan dan pelayanan profesional kepada para Kepala Sekolah dan Guru-,

  2. meningkatkan kemampuan dan keterampilan Kepala Sekolah sehubungan dengan pemberian bantuan dan pelayanan profesional kepada guru-guru;

  3. meningkatkan kemampuan. dan keterampilan profesional guru-guru-, serta

  4. meningkatkan mutu proses belajar mengajar sebagai sasaran antara. guna pencapaian tujuan yaitu. meningkatnya mutu pendidikan.

Strategi yang digunakan untuk mencapai keempat tujuan di atas adalah:

a. Mengolah materi kurikulum sehingga mudah dipahami oleh peserta didik di SD,

b. Mengubah sikap dan perilaku sehingga pembelajaran diarahkan pada:

  1. cara Belajar Siswa Aktif
  2. cara belajar berkelompok, individual, dan ada kalanya klasikal
  3. belajar antarmurid

c. Menggunakan alat pelajaran yang:

  1. alami, benda nyata
  2. dibuat sendiri (guru atau murid)
  3. terdapat dalam lingkungan sendiri

Setelah proyek mulai menunjukkan keunggulannya, banyak sekolah di sekitar Cianjur dan Jakarta berkunjung ke lokasi proyek untuk melihat dari dekat apa yang mereka lakukan dalam pembelajaran. Kunjungan oleh sekolah, yayasan, dan pejabat semakin gencar setelah berbagai surat kabar di Jakarta memuat berita-berita tentang CBSA. Suara Karya tanggal 28 Agustus 1984 memuat artikel dengan judul: "Sistem belajar yang baru ini menghasilkan. orang yang bersikap kritis, berani bicara dan juga aktif dan kreatif ''. Berita Buana tanggal 27 Agustus 1984 juga memberitakan: "Di SD-SD Cianjur dapat dilihat sistem mengajar yang lebih membantu anak didik untuk mengembangkan daya pikirnya".

Setelah uji coba berlangsung 4 tahun, Balitbang Dikbud menugaskan penulis untuk menginventarisasi inovasi yang terjadi di proyek tersebut khususnya pelaksanaan pembelajaran. Kajian inovasi dikhususkan pada pembelajaran IPA di kelas VI. Sebelum kajian ini dimulai, penulis telah banyak mengikuti pertemuan antar penilik, antar kepala sekolah dan antar guru yang terlibat dalam proyek CBSA. Dalarn mengembangkan maupun menerapkan program, guru, kepala sekolah dan penilik memiliki kerjasama yang baik. Status dalam birokrasi tidak mendominasi kegiatan, namun sebaliknya kreativitas lebih menentukan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam pengembangan bahan pembelajaran yang dihadiri ketiga unsur: guru, kepala sekolah, dan penilik, dapat terjadi guru lebih mendominasi pembicaraan dari pada dua unsur lainnya. Hal semacam ini lumrah dalam proyek CBSA. Semua kegiatan pembelajaran berpedoman pada kurikulum 1975 namun penjabarannya dirundingkan oleh guru kelas bersama kepala sekolah dan penilik. Guru yang terlibat dalam proyek ini mengadakan pertemuan periodik di Pusat Kegiatan Guru (PKG). Pusat ini berlokasi di salah satu SD. Di pusat inilah guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang harus diberikan, yang berkenaan dengan materi, metode, alat bantu pembelajaran dan jenis tes yang harus diberikan baik sebagai pre-test maupun untuk post-test. Guru membuat sendiri atau mencari sendiri alat bantu pembelajaran yang paling sesuai dan yang membawa kesan dan mudah dipahami peserta didik. Kegiatan mencari dan membuat sendiri alat dan bahan yang diperlukan akan langsung meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan inderanya. Disamping itu, dampak positifnya terhadap pembelajaran memungkinkan guru untuk menyampaikan berbagai alternatif kegiatan yang menuju ke satu tujuan dalam pembelajaran.

Hasil pengamatan selama pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas VI pada kurun waktu November 1984 sampai dengan awal Januari 1985 menunjukkan bahwa pembelajaran telah menggarap ketiga ranah: kognitif, afektif dan psikomotoris. Peserta didik menghayati benar ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, sambil menambah ilmu pengetahuan, keterampilan mereka dibina dan dikembangkan. Begitu juga unsur kepribadiannya diarahkan pada tindakan yang positif. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa: Dengan cara belajar yang dikembangkan di Cianjur khususnya pelajaran IPA tidak hanya murid mengerti karena mereka kerjakan sesuai dengan semboyan "Saya Kedakan Saya Mengerti"; tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah tercapainya suatu situasi belajar IPA yang mampu meningkatkan keterampilan mereka baik dalam menggunakan alat dan bahan, menggunakan semua indera, membuat penafsiran, membuat ramalan, menggunakan konsep, merancang kegiatan yang berbau penelitian dan menulis laporan. Selain itu terciptanya suatu sikap positif dalam berbagai aspek seperti terbinanya kerja sama dalam kelompok, adanya ketekunan dalam mengerjakan tugas, adanya tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan tugas, berkemnbangnya semangat kerja yang tinggi, serta berkembangnya semangat bergotong royong untuk menanggulangi sesuatu masalah dan terbinanya minat belajar yang cukup tinggi.

Dalam satu kegiatan yang berjudul "Makanan Kita", guru memberi tugas untuk memilah-milah berbagai jenis makanan sesuai dengan tempat tumbuhnya, di sawah atau ladang/kebun. Guru meminta kelompok membawa berbagai jenis makanan dari rurnah dan juga mernbawa alat-alat yang diperlukan untuk membuat pajangan dinding. Jenis bahan makanan yang dibawa mereka antara lain, sayur-sayuran (kol, sawi, kangkung, buncis, daun singkong, bayarn, tornat), kedondong, pisang, jagung, kacang tanah, kacang hijau, beras, singkong, ubi rambat, bangkuang dan sebagainya. Sedangkan jenis alat yang dibawa antara lain: gunting, penjepit, lem, lilin, spidol, pisau dapur, pisau cukur (silet), kantong plastik dan sebagainya. Dalam proses pembuatan pajangan dengan menggunakan bahan dan alat tersebut, mereka tidak canggung menggunakan alat, mereka mernilih dengan tepat bahan dan alat yang sesuai. Mereka secara spontan dapat memilih apakah harus menggunakan lem atau hecht machine untuk melekatkan sesuatu. Pada ternpat yang terbatas dengan mudah mereka mengatur letak bahan-bahan yang akan dipajang (dipamerkan) sehingga sernua terlihat dengan rapi dan teratur. Tugas ini dikerjakan bersama di dalam kelompok. Anggota kelompok kelihatan terampil mengerjakan tugasnya.

Keberhasilan mengembangkan kemampuan peserta didik sebagaimana, tercantum dalam tujuan pendidikan nasional diakhiri dengan adanya kebijaksanaan pemerintah bahwa CBSA di SD dihentikan karena adanya penyimpangan yang kurang sesuai dengan prinsip tertentu. Konon kabarnya prinsip tersebut antara lain, kelas terdengar ribut karena adanya diskusi kelompok, anggota kelompok tidak selalu menghadap ke papan tulis sehingga ada dugaan dapat berakibat badan miring, mata juling, dan sebagainya. Selain dari pada itu, ada sekolah yang bergegas untuk melaksanakan CBSA tanpa memperhatikan konsep dasar yang mendasarinya yaitu antara lain adanya persiapan yang mantap bagi guru, kepala sekolah, dan penilik setempat.

6. Program Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI)

Program Pekerti dicanangkan oleh Dikti untuk meningkatkan kualitas, pembelajaran dosen muda di perguruan tinggi. Sebelum program Pekerti telah ada sejumlah program peningkatan kualitas pembelajaran bagi dosen senior yaitu program P3G, program Akta-V, dan program Applied Aproach (A-A). Uraian tentang peningkatan kualitas pembelajaran di perguntan tinggi dibatasi pada program Pekerti di mana penulis diikutsertakan sebagai salah seorang penatar nasional untuk mata tataran Evaluasi Hasil Belajar. Pengelolaan Program Pekerti dipercayakan Dikti kepada PAU-PPAI-UT. Dalam pengembangan program PAU-PPAI-UT dilibatkan Tim Inti AA dari beberapa, PT Negeri.

Tujuan Pekerti secara khusus -antara lain, peserta diharapkan akan:

  • menghasilkan suatu Rancangan Mengajar Jangka Panjang untuk satu semester yang disebut GBPP;

  • menghasilkan seperangkat Rencana Mengajar Jangka Pendek untuk setiap pertemuan yang disebut Satuan Acara Pengajaran (SAP); serta

  • memiliki keterampilan mengajar.

Untuk mencapai tujuan di atas para dosen muda mengikuti pelatihan tatap muka selama 6 hari (48 jam) dan magang pada dosen senior selama satu semester. Materi yang diberikan pada pelatihan tatap muka adalah:

  • Prinsip Belajar dan Pembelajaran;

  • Rancangan Instruksional;

  • Penilaian Hasil Belajar; dan

  • Praktek Mengajar.

Setelah program ini beroperasi 3 tahun, penelitian

tahap I telah dilaksanakan dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan: "Masalah apa yang dihadapi dosen muda dalam mempersiapkan proses perkuliahan, melaksanakan perkuliahan, dan mengevaluasi perkuliahan?" Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen muda yang telah mengikuti pelatihan tatap muka dan mengikuti magang dengan dosen senior telah mulai memperlihatkan adanya perubahan tradisi dalam pembelajaran walaupun belum maksimal; penguasaan materi pembelajaran sudah baik, adanya variasi penyampaian perkuliahan dengan memanfaatkan media, meningkatkan interaksi tanya jawab, dan memberikan latihan dan tugas-tugas.

Secara khusus pengalaman penulis dalam mengerakan latihan mengenai pengembangan tes baik bentuk uraian maupun bentuk objektif, para peserta belum terbiasa membuat soal yang sifatnya mengukur proses berpikir tinggi seperti aspek analisis, sintesis, dan evaluasi. Mereka cenderung membuat soal ingatan. Kecenderungan ini tentu tidak lepas dari kebiasaan dalam pelaksanaan pembelajaran. Kebiasaan inilah yang menggiring mereka sehingga sukar untuk mengembangkan soal yang mengukur proses berpikir tinggi. Kiranya latihan pembelajaran melalui pemecahan masalah, atau membawa kasus yang riil dalam masyarakat ke dalam perkuliahan perlu ditingkatkan frekuensinya.

Sebenarnya program Pekerti tidak hanya diminati oleh dosen muda di perguruan tinggi negeri, namun juga diminati oleh perguruan tinggi swasta, dan berbagai Diklat yang berstatus negeri, BUMN, dan swasta.

Rangkuman dan harapan

  1. Dalam masa pembangunan telah ada. sejumlah proyek pemerintah yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Proyek-proyek lahir pada waktu yang berbeda, ada yang lahir beberapa Repelita kemudian. Peningkatan kualitas ini telah diupayakan di tingkat Pendidikan Dasar yaitu P3D/P2SD, PPSP dan CBSA khususnya di SD, di tingkat Pendidikan Menengah (PPSP dan PKG), dan di tingkat Pendidikan Tinggi yaitu Proyek P3G,Applied Approach, dan Pekerti. Upaya peningkatan yang telah dilaksanakan tidak terbatas pada ranah kognitif tetapi juga pada ranah afektif dan ranah psikomotor. Upaya ini telah berhasil dilihat dari berbagai sisi, namun ada penglihatan lain yang menyebabkan kegiatan ini tidak dapat dilanjutkan walaupun dengan mengadakan penyesuaian.

  2. Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar selain membenahi proses pembelajaran juga menghasilkan buku teks yang harus digunakan dalam kegiatan sehari-hari di kelas. Dampak pembenahan ini di lapangan masih jauh dari harapan karena kebanyakan guru SD masih mendominasi kegiatan dalam kelas, murid dijadikan sebagai pendengar yang baik. Buku teks yang sudah memiliki kualitas yang baik, digantikan oleh buku pelajaran yang kurang mendukung tercapainya tujuan pendidikan di SD.

  3. Pendekatan yang digunakan oleh proyek untuk melaksanakan peningkatan kualitas pembelajaran ini tidak sama. Proyek PPSP meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembaharuan sistem pendidikan dasar dan menengah secara menyeluruh seperti penjenjangan SD-SMP-SMA menjadi 5-3-3, adanya maju berkelanjutan, belajar tuntas, belajar dengan menggunakan modular, dan menitikberatkan pada, belajar mandiri/kelompok. Proyek PKG dan Proyek Pekerti meningkatkan kualitas pembelajaran dengan meningkatkan kualitas kemampuan para pendidik (guru dan dosen). Sedangkan proyek CBSA upaya peningkatan kualitas pembelajaran diawali dengan mengubah persepsi para pengelola pendidikan SD di tingkat yang paling rendah yaitu Kepala Sekolah dan Penilik.

  4. Ada kegiatan yang telah berhasil di proyek yang satu karena hal-hal tertentu tidak digunakan pada proyek yang lainnya walaupun kegiatan tersebut sangat erat kaitannya. Misalnya PPSP telah berhasil mengembangkan program pengayaan dan remediasi, proyek CBSA tidak menggunakan program ini walaupun dalam rencananya peserta didik yang lambat tempo belajamya harus dibantu oleh guru. Demikian juga dengan bahan bacaan, CBSA sangat terbatas pada buku, "Manusia dan Alam Sekitarnya", sedang di PPSP telah banyak modul-modul IPA.

  5. Hasil-hasil positif yang telah dicapai masing-masing proyek, belum semuanya dimanfaatkan. Kenyataan menunjukkan bahwa ada hasil yang:

  • diteruskan dan disebarluaskan kegiatannya; misalnya Program Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dipelopori oleh PPSP dan Kurikulum 1975. Sampai sekarang di semua jenjang dan jenis pendidikan program ini tetap diharuskan pelaksanaannya.

  • menurut rencana akan diteruskan pelaksanaannya, namun dalam kenyataannya belum menjadi bagian dari sistem pendidikan, antara lain kegiatan belajar tuntas dan maju berkelanjutan.

  • diteruskan dengan berbagai penyesuaian, namun setelah ada penyesuaian, hasil kualitas pembelajaran semakin jauh dari hasil sebelum. ada penyesuaian, contohnya antara lain penyelenggaraan proyek PKG yang diubah menjadi SPKG dan akhirnya menjadi MGMP.

  • kurang mendapat dukungan dan dorongan dari Depdikbud (Depdiknas, sekarang), misaInya proyek CBSA, kegiatan praktek (di laboratoriurn IPA dan laboratoriurn bahasa) dan upaya-upaya pengembangan nilai dan sikap.

  1. Seyogyanya semua hasil proyek yang telah dicapai selama ini baik berupa program, bahan pembelajaran, alat ukur, hasil pengukuran atau. laporan diarsipkan dengan baik dan dijadikan sebagai bahan pustaka.

  2. Adanya upaya dari LPTK untuk menjadikan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini sebagai bahan kajian/bahan diskusi yang berkaitan dengan pendidikan di Indonesia. Dengan kata lain kelemahan-kelemahan yang pernah dialami tidak akan terulang pada waktu yang akan datang. Dengan maraknya pendirian sekolah unggulan akhir-akhir ini, pengalaman pada kelima proyek dijadikan referensi dan sedapat mungkin hasil yang positif dimanfaatkan sambil berupaya untuk mengadakan. penyernpurnaan.

  3. Upaya yang lebih akademik dalam menentukan keberhasilan suatu kegiatan perlu ditumbuh suburkan. Pengalaman memberhentikan suatu kegiatan atas dasar pertimbangan birokrat tidak hanya menyepelekan semua sumber daya yang telah dikerahkan selama ini, tetapi juga mengecewakan banyak peserta didik dan orang tua murid/masyarakat.

  4. Di satu masa pada akhir tahun tujuh puluhan dan awal tahun delapan puluhan hampir semua LPTK pemerintah memiliki sekolah laboratorium(Laboratorium School. Pada tahun 1985, semua LPTK tersebut "melepaskan" sekolahnya. Lima tahun kemudian pemerintah mengharuskan semua dosen LPTK harus memiliki pengalaman di sekolah dan pada saat ini sedang dikembangkan pula pola/model kemitraan antara LPTK dengan sekolah. Pada kurun waktu yang sama salah satu pemikiran bahwa PPSP harus dihentikan aktivitasnya adalah karena. sekolah tersebut: "ekslusif, mahal dan rumit pelaksanaannya". Bukankah sekolah unggulan. yang ada di setiap propinsi termasuk kategori yang demikian? Apakah kejadian seperti ini akan terjadi lagi pada era reformasi ini? Bukankah uraian di atas telah menyentuh hati untuk memikirkan reformasi pada proyek-proyek pendidikan yang akan datang?

  5. Kalau lima contoh proyek di atas belum menunjukkan kegiatannya yang pada akhirnya bermuara pada pembaharuan proses pembelajaran, bagaimanakah dengan proyek-proyek lain yang jumlahnya sudah ratusan bahkan mungkin ribuan di lingkungan Depdikbud, adakah kesinambungannya, sudah jelaskah muara yang akan dituju? Barangkali ini termasuk pertanyaan penelitian yang oleh Lembaga Penelitian Pendidikan Depdiknas dapat menyusun jawabannya pada. waktu yang dekat ini.

Marilah kita. sebagai para pendidik, secara bersama-sama belajar dari pengalaman yang lalu untuk mengembangkan dan membina pendidikan yang lulusannya lebih mampu bersaing dalam abad kedua puluh satu yang akan datang.

Daftar pustaka

Bloom, B.S. (1977). Taxnomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. N.Y.: Longmans, Green and Co.

Eggleston, J. (1984). A. Summative Evaluation of PKG, Laporan Penilaian. Jakarta: Dikmenum.

Moch. Tauchid, dkk. (1962). Ki Hadfar Dewantara (Bagian Pertama, Pendidikan), Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Nasoetion, N. (1985). Proses Mengajar Bidang Studi IPA. Laporan Penelitian Bantuan Profesional Kepada Guru-guru Sekolah Dasar. Jakarta: Balitbang Dikbud.

______ (1996). Pendidikan IPA dan Teknologi di SMP, Laporan Penilaian. Jakarta: Dikmenum.

Pannen, P., dkk. (1997). Manfaat Keterampilan Dasar Teknik Instruksional Dosen Junior Dalam Proses Perkuliahan. Laporan Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka.

edijarto. (1981). Faktor-faktor yang Mempengaruhi KualitasProses Belajar dan Mutu Hasil Belajar Kelas Terakhir SD. Disertasi untuk mencapai derajat Doktor dalam Ilmu Pendidikan di IKIP Bandung.

Supeni, T. dan Admin Adjis. (1991). PKG Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Profesional Guru IPA. Disajikan pada Seminar Lokakarya Kebijakan Pendidikan IPA/Tugas Praktikum Kelompok di SMP dan SMA. Jakarta.

Undang-undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Tjiptosasmito, W., dkk. (1979). Report of the Monitoring and Evaluation of the Teacher Training Development Proyea, Laporan Penilaian. Jakarta: BP3K.

Identifikasi Kewirausahaan

Wirausaha berasal dari kata wira dan usaha. Wira dapat berarti mulia, luhur, unggul, serta usaha berarti kemampuan melakukan usaha atas kekuatan sendiri. Jadi, wirausaha berarti manusia unggul dalam usaha atas kekuatan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Menurut Arif F. Hadipranata, wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan financial ataupun non uang. Drucker menilai wirausaha secara umum dalam arti jiwa atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti adanya keinginan untuk melakukan perubahan, dan sifat harus terhadap sesuatu yang baru. Kathleen mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha. Anwar Gozally mengartikan wirausaha sebagai seorang yang mengambil tanggung jawab untuk menciptakan atau memperkenalkan gagasan baru yang disebut innovasi. Mereka dapat berperan sebagai pencetus maupun penemu. Mereka merupakan pimpinan yang berupaya merealisasikan pemikiran menjadi kenyataan yang menguntungkan.


Inpres No. 5 tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan kewirausahaan menjelaskan arti kewirausahaan. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah kepada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Kewirausahaan adalah kepribadian wirausaha. Kewirausahaan dapat diistilahkan dalam bahasa Inggris entrepreneur. Kepribadian unggul kewirausahaan adalah nilai-nilai watak usaha yang sangat tinggi. Wirausaha merupakan pejuang kemajuan yang mengabdikan diri kepada masyarakat dalam wujud dedikasi dan tekadnya atas kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat, memperluas kesempatan kerja, turut serta, dan berdaya upaya mengakhiri ketergantungan pada luar negeri dan dalam melakukan fungsi-fungsinya tersebut selalu tunduk pada hukum dan lingkungannya.
Pendidikan kewirausahaan perlu diberikan sejak diri. Kewirausahaan tidak muncul secara mendadak, akan tetapi melalui proses pembelajaran. Perlunya pendidikan kewirausahaan bagi setiap orang antara lain sebagai berikut :
a. Tenaga-tenaga wirausaha mempunyai kemampuan luar biasa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya memberikan kesempatan kepada setiap manusia memiliki kepribadian wirausaha. Ilmu kewirausahaan dapat dibentuk, dilatih, dididik, dikembangkan dan ditingkatkan jumlahnya.
b. Seorang yang berjiwa wirausaha, diri sendirilah yang menjadikan seorang manusia yang berkepribadian dan berwatak unggul, memberikan kemampuan untuk membersihkan sikap mental negatif, serta meningkatkan daya saing dan daya juang untuk mencapai kemajuan.
c. Jiwa kewirausahaan merupakan salah satu bekal bagi seseorang dalam menjalani kehidupan.
d. Kewirausahaan adalah sumber peningkatan mutu kepribadian dan kemampuan usaha. Usaha penggalian kewirausahaan sangat mutlak diharapkan oleh setiap orang.
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh suatu masyarakat dan negara dengan adanya orang-orang yang berjiwa wira-usaha, antara lain sebagai berikut :
a. Sebagai generator dan sumber penciptaan serta perluasan kesempatan kerja.
b. Sebagai pelaksanaan pembangunan yang dapat dipercaya integritasnya dan berdedikasi memajukan lingkungannya.
c. Sebagai penolong orang lain agar orang lain mampu membantu dan menolong dirinya.
d. Sebagai pembayar pajak yang teratur.
e. Sebagai sumber tenaga manusia yang ideal.
Ciri-ciri wirausaha
Dalam rangka menjadi seorang wirausahawan yang tangguh, seseorang harus memiliki beberapa ciri tertentu antara lain sebagai berikut:
a. Memiliki keberanian untuk mengambil risiko dalam menjalankan usaha.
b. Memiliki daya kreasi, imajinasi dan kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
c. Memiliki semangat dan kemauan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.
d. Mengutamakan efisiensi dan penghematan penghematan biaya.
e. Memiliki kemampuan untuk memotivasi bawahan atau partner usaha agar mempunyai kemampuan tinggi.
f. Memiliki cara analisis yang tepat, sistematis dan metodologis.
g. Tidak konsumtif, selalu menanamkan kembali keuntungan yang diperoleh, baik untuk memperluas usaha yang sudah ada maupun menanamkannya pada usaha-usaha yang baru.
h. Memiliki kemampuan dalam menilai kesempatan yang ada serta membawa teknik-teknik baru dalam mengorganisasi usaha-usahanya secara tepat dan efisien.

IDENTIFIKASI DIRI
Nama saya Riski Hikmawati, saya dari program Pendidikan Sejarah. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah kepada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja teknologi dan produk baru.
Saya memang berasal dari pendidikan sejarah tapi dalam diri saya menginginkan memiliki jiwa kewirausahaan karena saya menginginkan memiliki usaha walaupun usaha kecil-kecilan.
Tapi yang menjadi masalah bagi saya, saya masih sulit menentukan di bidang apa saya akan berwirausaha padahal saya tahu saat ini berwirausaha dapat dilakukan di berbagai bidang. Sebagai contoh bidang jasa, bidang penjualan, bidang pembuatan makanan, dll. Tapi yang saya inginkan adalah berwirausaha di bidang pembuatan asesoris dan pernak-pernik.
Keinginan berwirausaha saya masih banyak mendapat masalah dan kendala diantaranya saya masih bingung produk apa yang akan saya buat, permasalahan modal, pembelian bahan dan pemasaran produk tersebut, dan yang lebih penting, jiwa wirausaha saya masih rendah. Selain itu saya juga masih bingung innovasi apa yang akan saya lakukan untuk menarik orang-orang agar tertarik pada usaha tersebut.
Saya juga tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko dalam menjalankan usaha. Belum memiliki daya kreasi, imajinasi, dan kemampuan yang cukup tinggi. Belum memiliki kemampuan dalam menilai kesempatan yang ada untuk membawa produk baru, serta belum memiliki motivasi yang tinggi untuk menjalankan usaha.
Maka dari itu dengan adanya mata kuliah kewirausahaan ini, saya berharap jiwa wirausaha saya dapat tumbuh. Saya bisa mendapatkan motivasi untuk berwirausaha, dapat memiliki banyak pengetahuan tentang wirausaha. Dan masih banyak manfaat yang ingin saya dapatkan dengan mempelajari kewirausahaan. Dengan berwirausaha setidaknya saya juga dapat melatih diri agar tidak bertumpu pada orang tua. Misal dengan membayar biaya kuliah sendiri atau setidaknya dengan membiayai hidup dengan hasil usaha sendiri. Demikian harapan-harapan yang ingin saya capai dalam mempelajari ilmu kewirausahaan.

Pengaruh pendidikan tingkat prasarjana dalam keahlian komunikasi: sebuah trial klinis terkontrol acak

Abstrak

Tujuan: Untuk menentukan apakah mahasiswa meningkat keahlian komunikasinya sebagai akibat dari perawatan pasien yang terawasi dan apakah kursus komunikasi yang baru diimplementasikan bisa lebih meningkatkan keahlian-keahlian ini.

Metode: Kami melakukan sebuah trial terkontrol acak yang mencakup semua partisipan mahasiswa yang studinya sudah dalam dalam tahap kursus perawatan klinis pertama (n = 26) dari Oktober 2006 sampai Februari 2007. Pengacakan diseimbangkan berdasarkan jender dan keahlian komunikasi dasar. Kelompok tes mempraktekkan keahlian komunikasi pasien-dokter gigi pada kelompok-kelompok kecil dengan memainkan peran dan wawancara dengan pasien sebenarnya yang direkam dengan tape, sedangkan kelompok kontrol belajar dalam loka-karya berbasis masalah setiap pekan. Sebelum dan setelah wawancara (dua kelompok sebelum dan setelah desain) semua mahasiswa melakukan dua wawancara dengan pasien-pasien yang distimulasi. Pertemuan ini diberi nilai dengan menggunakan checklist 10-pertanyaan yang diambil dari Calgary-Cambridge Observation Guide I.

Hasil: Ukuran ANOVA berulang (α = 0,05) menunjukkan perbedaan signifikan antara skor jumlah rating antara kelompok tes dan kelompok kontrol (P = 0,004). Partisipan yang dididik dalam hal keahlian komunikasi mengalami peningkatan signifikan (Δ = +14,9; P = 0,004), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada pertambahan kompetensi komunikasi praktis yang diamati (Δ = -3,9; P = 0,23).

Kesimpulan; Bisa ditunjukkan bahwa semata-mata berinteraksi dengan pasien selama sebuah praktik perawatan klinis tidak meningkatkan keahlian komunikasi profesional. Sebaliknya, implementasi sebuah kursus keahlian komunikasi memperbaiki kompetensi praktis dalam hal interaksi dokter gigi-pasien.

Pendahuluan

Komunikasi yang baik sangat penting bagi praktik klinis dan memiliki banyak efek positif dalam interaksi harian antara dokter (dokter gigi) dan pasien: perbaikan bisa ditemukan untuk kesehatan pasien, pelaporan sendiri pasien tentang keadaan kesehatannya, kualitas dan kuantitas informasi yang diperoleh, atau pembentukan hubungan terapeutik. Lebih lanjut, kepuasan pasien dan dokter meningkat dan menurunnnya jumlah trial malpraktik yang telah dilaporkan. Dalam hal ini, semakin banyak yang berminat dalam kedokteran dan kedokteran gigi untuk memadukan pengajaran komunikasi dalam kurikulum dan untuk menentukan target-target pembelajaran untuk tingkat-tingkat kualifikasi berbeda pada pendidikan klinis pra dan pasca sarjana. Organisasi Kesehatan Dunia menentukan kriteria dokter yang baik dalam lima atribut umum sebagai seorang komunikator yang sangat baik.

Seperti badan lainnya, Association for Dental Education inf Europe telah melakukan aktivitas untuk mengharmoniskan kurikulum kedokteran gigi di negara-negara Uni eropa. Sebuah paper posisi menentukan profil kompetensi dari dokter gigi Eropa dan implikasi terkait untuk pendidikan kedokteran gigi. “Komunikasi dan Keahlian Antar-Pribadi” disoroti sebagai kompetensi utama dan salah satu dari tujuh hal yang mewakili kategori-kategori luas dari aktivitas profesional.

Selain dalam kedokteran umum dimana banyak kelompok penelitian dan rumah sakit yang berdedikasi untuk komunikasi dokter-pasien, program-program pelatihan khusus dalam pendidikan kedokteran gigi yang meningkatkan komunikasi dalam hal kunjungan ke dokter gigi dan penelitian lebih sulit ditemukan dalam literatur.

Salah satu motif yang mungkin untuk sikap awal ini adalah bahwa belum jelas apakah pendidikan klinis saja bisa mengarah pada kompetensi dalam keahlian komunikasi. Lebih lanjut, pengimplementasian sebuah kursus keahlian komunikasi dengan pengajaran kelompok-kecil merupakan pekerjaan yang intensif tenaga kerja dan menentukan standar yang tinggi untuk kualifikasi dalam komunikasi dan pengajaran bagi fasilitator. Berbeda dengan bidang pendidikan lain dalam kedokteran gigi, komunikasi terkait dengan konsep harga diri individual dari para pembelajar. Pengalaman yang didapatkan dalam bidang lain tidak akan secara otomatis diterjemahkan menjadi komunikasi yang efektif. Kurangnya staf yang terlatih merupakan kendala yang paling sering disebutkan untuk keberhasilan pengajaran komunikasi.

Dengan demikian, penting untuk mengevaluasi sejauh mana pendidikan dalam keahlian komunikasi diperlukan dalam kedokteran gigi, dengan orientasi praktisnya yang cukup besar. Jika hipotesis ini ingin diterima, ini akan menimbulkan pertanyaan tentang penggunaan efisien dari sumber daya pendidikan yang terbatas, misalnya, seberapa seragam kelompok target berkenaan dengan kualifikasi awal dan perbedaan jender yang ada.

Pendidikan kedokteran gigi pra-sarjana di Jerman lazimnya ditandai dengan banyaknya kursus laboratorium dan klinis, yang menghasilkan banyak pertemuan pasien khususnya pada periode-periode klinik. Akan tetapi, aspek-aspek komunikasi pasien-dokter gigi dengan kursus spesifik jarang terpadu dalam kurikulum standar. Pada tahun 2005, kami membuat sebuah konsep pengajaran terpadu untuk kursus-kursus dalam Kedokteran Gigi Operatif dan Periodontologi di sekolah kedokteran gigi kami untuk membuat peka para fasilitator dan mahasiswa terhadap bidang interaksi pasien dan untuk mengkalibrasi diri kami dalam hal proses dan konten kursus tersebut.

Dalam penelitian kali ini, kami menguji hipotesis yang mengatakan bahwa: (i) mahasiswa secara independen meningkat keahlian komunikasinya sebagai akibat dari perawatan pasien yang terawasi dan (ii) bahwa sebuah kursus komunikasi yang baru diimplementasikan akan meningkatkan keahlian-keahlian seperti ini.

Metode

Praktek intervensi-pendidikan dan kursus komunikasi

Efek sebuah kurikulum dalam keahlian komunikasi tergantung pada kualitas kandungan pendidikan serta metodenya. Kami telah memutuskan untuk memilih konsep Calgary-Cambridge (CCOG) (Gbr. 1) sebagai sebuah pendekatna berbasis bukti untuk mencakup kandungan dan untuk berfungsi sebagai panduan-panduan organisasional. Ini dianjurkan sebagai salah satu kerangka p-ikir yang paling komprehensif dan bermanfaat untuk instruksi keahlian komunikasi dan dianggap sebagai panduan komunikasi dengan kualitas yang paling tinggi. Lebih lanjut, pendekatan ini memadukan proses sosial dan teknis yang tipikal untuk pertemuan dalam kedokteran gigi dengan memasukkan pemeriksaan fisik dan proses wawancara.

Disamping spesifikasi kandungan dan penyaluran target-target pembelajaran itu sendiri, pendidikan fasilitator diatur untuk meningkatkan keahlian wawancara personil dan memungkinkan mereka untuk memimpin kelompok-kelompok pembelajaran kecil. Sebuah proses pembelajaran yang efektif memerlukan keragaman metodologi. Piramid Miller yang mengilustrasikan tingkat-tingkat berbeda dari proses ini dijadikan sebagai sebuah kerangka-pikir didaktik untuk memilih metode-metode pembelajaran. Pada awalnya, keahlian ditunjukkan dan dibahas dalam sebuah kelompok kecil (6 sampai 7 peserta) dengan alat rekaman video dan kasus pasien diikuti dengan permainan peran. Selanjutnya, video partisipan yang mewawancarai pasien sebenarnya direkam dan dianalisis dalam kelompok mereka. Setiap partisipan dalam penelitian ini memiliki akses bebas terhadap sebuah panduan kecil, yang memuat item-item utama dari CCOG. Aspek-aspek kunci dari program ini adalah konsep pengetahuan tentang psikologi komunikasi dan keahlian komunikasi pasien-dokter, sedangkan bagian “penjelasan dan perencanaan” dipersiapkan untuk pengembangan kursus ini di masa mendatang. Selama musim dingin 2006/2007 (14 pekan), waktu yang dihabiskan untuk masing-masing partisipan adalah 2 jam per pekan dengan loka-karya permulaan selama 10,5 jam. Dalam interval antara sesi-sesi kelompok, mahasiswa diminta untuk mempersiapkan diri untuk kandungan CCOG dengan bab-bab buku teks yang relevan dari Silverman dkk.

Tolak ukur hasil keahlian komunikasi

Prosedur evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada CCOG1, yang memberikan item-item yang menilai keahlian prosedural selama wawancara pasien yang terstimulasi. CCOG memiliki kelebihan yang sama persis dengan keahlian yang digunakan untuk mengajar dan penilaian. Sebanyak 38 item ditentukan ke dalam kategori berikut:

1.Memulai sesi [membuat rapor awal, mengidentifikasi alasan untuk konsultasi].
2.Mendapatkan informasi [eksplorasi masalah pasien, keahlian tambahan untuk memahami perspektif pasien].
3.Menyediakan struktur bagi konsultasi [membuat organisasi menjadi jelas]
4.Membangun hubungan [menggunakan perilaku non-verbal yang sesuai, membuat rapor, melibatkan pasien]
5.Menutup sesi

Tiga dosen yang terlatih dalam komunikasi dokter-pasien memilih 10 dari item-item ini dengan konsensus yang disamakan, yang konsisten dengan situasi kontak pasien awal dimana pewawancara bertujuan untuk mengidentifikasi pertimbangan pasien dan untuk mengevaluasi masalah-masalah medis umum. Mahasiswa mendapatkan rating untuk masing-masing item antara 0 sampai 3 (Tabel 1) menghasilkan skor total tertinggi 30. Kualitas keahlian proses komunikasi didefinisikan dengan skor total sebagai variabel dependen.

Peserta dan pengamatan

Peserta dalam kursus klinis pertama Kedokteran Gigi Operatif dan Periodontologi (tahun ke-4 dari studi) di musim dingin 2006/2007 (n = 26) dijadikan sebagai kriteria untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dan semua 26 mahasiswa memberikan izin tertulis untuk berpartisipasi dalam penelitian. Subjek-subjek ini dimasukkan secara acak ke dalam kelompok uji dan kelompok kontrol setelah pengamatan pertama, kedua kelompok disusun secara paralel dengan mencocokkan variabel-variabel jender (18 perempuan dan 8 lelaki) dan kompetensi komunikatif untuk memastikan distirbusi homogen dari keahlian komunikasi pada tingkat dasar dan bukan jumlah subjek yang kecil.

Masing-masing mahasiswa melakukan dua wawancara dengan pasien yang terstimulasi pada awal dan akhir dari kursus ini. Pada masing-masing pengamatan seorang pasien perempuan dan seorang pasien lelaki terstimulasi diwawancarai. Pasien-pasien terstimulasi dikumpulkan selama 3 jam sebelum penilaian. Semua naskah pasien yang terstimulasi memiliki tingkat kesulitan yang sama dan penentuan tugas yang sama. Para mahasiswa diinstruksikan untuk mengidentifikasi alasan-alasan mengapa mereka melakukan konsultasi dan risiko-risiko kesehatan yang potensial. Pada kedua pengamatan, pengamat-pengamat yang dilatih sama (berbeda dari orang-orang yang ditunjuk sebagai guru dan peneliti) menilai para partisipan, sedangkan urutan wawancara ditentukan secara acak.

Sesuai dengan kelompok tes yang terlatih pada kursus komunikasi yang baru dibuat, para mahasiswa dari kelompok kontrol dilibatkan dalam sebuah tutorial berbasis masalah tentang perencanaan perawatan dengan format kelompok yang sama dan muatan studi yang sama seperti kelompok tes. Semua mahasiswa dari kelompok tes dan kelompok kontrol yang menghadiri kursus klinis cukup mirip dan tidak ada perbedaan tentang waktu kontak dengan pasien dan menambah sampai 150 jam total dan 75 jam sebagai terapist yang bertanggung jawab.

Analisis data

Data tidak dianalisis sebelum akhir kursus untuk menjamin agar kinerja tidak memiliki pengaruh terhadap kelulusan dalam kursus klinis. Hanya keahlian proses komunikasi yang relevan dalam evaluasi ini: kandungan materi “dental” tidak dipertimbangkan. Jumlah skor dari checklist CCOG yang dimodifikasi dijadikan sebagai variabel dependen. Pengaruh intervensi (tes versus kontrol) yang tergantung pada waktu pengamatan dan jender diuji dengan menggunakan model ANOVA berulang dengan matriks kovarians yang tidak terstruktur. Tingkat signifikansi untuk penolakan hipotesis null ditentukan pada α = 0,05.

Hasil

Nilai mean dan SD dari skor total ditunjukkan pada Tabel 2. Nilai berkelompok pada awal penelitian adalah 25,6 (11.2). Kelompok tes dan kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan signfikian pada pengamatan awal. Partisipan perempuan dan lelaki berkinerja serupa pada awal dan akhir (Gbr. 2 dan 3). Setelah menyelesaikan kursus klinis, tidak ada peningkatan kompetensi komunikasi yang bisa diamati pada peserta tanpa intervensi aktif di bidang komunikasi pasien-dokter gigi (Δ = -3,9; P = 0,23). berbeda dengan itu, perbedaan signifikan antara kelompok tes dan kelompok kontrol bisa menjadi jelas (P = 0,004). Para peserta dari kelompok tes membaik signifikan setelah mengikuti kursus komunikasi (Δ = +14,9; P = 0,004).

Pembahasan

Kekurangan dalam komunikasi dokter-pasien sering dilaporkan dalam literatur. Lebih lanjut, ada beberapa indikasi bahwa keahlian komunikasi tidak membaik tanpa pendidikan. Hasil kami memberikan bukti bahwa dalam kedokteran gigi, perbaikan keahlian komunikasi profesional selama kursus klinis tidak dapat terwujud tanpa dukungan yang tinggi. Lebih daripada itu, hasil dari disiplin-disiplin medis yang berbeda konsepnya dapat ditransfer ke dalam bidang pendidikan kedokteran gigi di Jerman. Dengan membandingkan hasil dari kelompok kontrol pada kedua pengamatan (Δ = -3,9), bisa dihipotesiskan dalam penelitian selanjutnya bahwa mirip dengan disiplin-disiplin lain, keahlian komunikasi sebetulnya menjadi buruk ketika mahasiswa semakin jauh menjalani pendidikan kedokteran gigi mereka.

Akan tetapi, kualitas komunikasi dokter-pasien bisa membaik dengan pendidikan khusus, meskipun setiap upaya dalam pengembangan keahlian wawancara bisa menjadi permukaan. Dalam ilmu medis. Perpaduan kursus pendidikan menjadi kurikulum secara keseluruhan telah banyak dipostulasikan dan berbagai upaya telah dilakukan untuk menentukan tujuan kurikuler ini dalam pernyataan-pernyataan konsensus. Umum bagi semua pendekatan ini bahwa serangkaian keahlian wawancara membentuk kerangka konseptual untuk pengembangan sebuah kurikulum komunikasi. Dalam hal ini, berbagai model berbeda dibuat yang dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi lokal:

1.Checklis Wawancara Brown
2.Panduan Calgary-Cambridge
3.Model E4
4.Pernyataan konsensus Kalamazoo
5.Mass Global
6.Inisiatif Macy dalam model komunikasi kesehatan
7.Metode klinis terpusatkan pasien
8.Kerangka pikir Segue
9.Model Tiga-Fungsional

Walaupun tidak ada standar untuk penentuan komunikasi yang baik dalam kunjungan medis, orientasi pasien sering mendominasi sebagai sebuah titik sentral. Ini mencakup pertimbangan yang sesuai terhadap ide, pertimbangan pasien dan emosi serta permintaan informasi mereka. Van Dalen dkk mampu menunjukkan bahwa lebih dari setengah varians dalam efek pembelajaran tergantung pada kandungan kursus komunikasi.

Dari konsep-konsep yang tersedia, kami mengambil model Calgary-Cambridge sebagai basis untuk perencanaan kursus kami, karena sejauh pengetahuan kami ini merupakan salah satu kerangka-kerja yang paling komprehensif dan paling bermanfaat untuk instruksi dan penilaian dalam keahlian komunikasi. Disamping itu, metode ini telah mendapatkan kepercayaan yang luas dalam pengaplikasian saintifiknya dan disebut sebagai panduan dengan kualitas tertinggi dalam sebuah perbandingan terbaru. Lebih lanjut, pendekatan ini memberikan dasar untuk mengajarkan keahlian wawancara medis pada tingkat nasional dan internasional.

Salah satu kekurangan dari penelitian ini bisa berupa pemilihan item dari CCOG yang tidak divalidasi dalam hal data validitas dan reliabilitas yang ada. Akan tetapi, menurut pendapat penulis bahwa perbedaan signifikan dalam hasil kelompok tes dan kelompok kontrol membenarkan desain penelitian yang disajikan disini.

Mungkin perlu dipertanyakan apakah peserta dari kursus komunikasi mengambil diuntungkan dalam prosedur penilaian karena pengetahuan mereka tentang CCOG. Selama masa ini, setiap subjek dalam penelitian ini memiliki akses bebas terhadap panduan paket CCOG melalui sebuah platform e-learning open-source, ILIAS dan dengan demikian, basis pengetahuan yang menunjukkan tingkat terendah dari piramid Miller cukup mirip pada kedua kelompok penelitian. Meski demikian, penelitian yang tidak mendapatkan pendidikan tambahan dalam keahlian komunikasi tidak mampu menerjemahkan pengetahuan ini menjadi situasi wawancara dalam kedokteran gigi.

Rutter dkk menunjukkan pada tahun 1976 bahwa mahasiswa yang mendapatkan pelatihan praktis dalam hal keahlian pengambilan riwayat melaporkan hampir tiga kali tingkat relevansi dan keakuratan informasi dibanding yang hanya mendapatkan pelatihan tradisional. Menurut pendapat penulis, sebuah konsep kelompok kecil interaktif dengan permainan peran dan analisis video masih perlu diteliti secara cermat karena ini memerlukan tenaga manusia yang banyak dan hanya bisa dijustifikasi jika sebuah manfaat yang relevan dan terbukti dihasilkan. Kelihatannya bahwa bukti ini telah ditunjukkan dalam penelitian ini.

Sejauh mana efek ini bisa melindungi, harus dipertanyakan. Literatur menuntut agar pendidikan dalam wawancara medis diulangi dan sehingga peluang-peluang berbeda untuk mempraktekkan dan menerima umpan-balik harus ditawarkan. Disamping itu, sebuah pendekatan longitudinal yang terpadu terbukti lebih efektif dibanding kursus yang terpusat. Tahap ekspansi sekarang dari kurikulum kami telah mengandung komponen longitudinal, tetapi dalam fase pendahuluan ini terlalu singkat. Setelah konfirmasi yang sukses untuk efikasi pengajaran, pengembangan kurikulum lebih lanjut diarahkan terhadap keterlibatan kursus-kursus lebih lanjut untuk menjamin sukses pengajaran yang bisa dipertahankan. Meski demikian pertanyaan lain akan muncul seperti apakah membedakan pendekatan pendidikan menurut tingkat kinerja individual mahasiswa bisa mengoptimalkan manfaat personal dari peserta dan persyaratan sumber daya pengajaran.

Kesimpulan

Dalam penelitian skala kecil ini, telah ditunjukkan bahwa peningkatan keahlian komunikasi, sebagaimana diukur dengan menggunakan skala CCOG ditunjukkan dengan partisipasi dalam sebuah kursus keahlian komunikasi pendahuluan yang baru. Integrasi kurikulum dari program-program pelatihan komunikasi dengan demikian direkomendasikan. Sebuah pendekatan longitudinal yang multidisipliner kelihatannya merupakan sebuah alternatif dari bukti dalam literatur, untuk memastikan kelangsungan hasil pembelajaran.

Senin, 19 April 2010

Anggodo Menang

Nama : yoggy satrio
Npm :11208307
KLS :2EA12
Anggodo Menang
Komisi III: Hakim Pakai Kacamata Kuda, Abaikan Opini Publik

Jakarta
- Komisi III DPR menilai, majelis hakim praperadilan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Bibit-Chandra menggunakan kacamata kuda karena memenangkan Anggodo Widjojo. Majelis hakim mengabaikan opini publik.

"Harus diakui hakim dalam memutus perkara ini menggunakan kacamata kuda dengan mengabaikan opini publik yang bisa dianggap melecehkan rasa dan perasaan hukum publik," ujar Ketua Komisi III Benny K Arman kepada detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/4/2010).

Benny mengatakan, legalisme hukum telah diberhalakan oleh majelis hakim dalam putusan perkara. Hakim dinilai telah mengabaikan keadilan masyarakat.

Maret lalu, Anggodo Widjojo mengajukan gugatan praperadilan atas SKPP dari Kejari Jakarta Selatan untuk perkara Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Anggodo merasa jadi korban dalam perkara itu.

Dalam sidang putusan Senin (19/4/2010), hakim memenangkan gugatan Anggodo. Hakim memerintahkan agar berkas Bibit dan Chandra dilimpahkan ke pengadilan.

Beberapa pertimbangan hakim melandasi alasan keputusan itu. Salah satunya, alasan sosiologis tidak pernah dipergunakan dalam pertimbangan hukum. Padahal, alasan sosiologis ini justru digunakan Presiden SBY untuk menghentikan kasus Bibit-Chandra atas rekomendasi Tim 8.

Selain itu hakim menilai Anggodo sebagai korban kasus korupsi sehingga dapat mengajukan hak gugat (legal standing).

(gus/fay)

kutipan dari
www.detik.com

Satpol PP Akui Kejadian Aneh Saat Bentrok Koja

Nama : Yoggy satrio

Npm :11208307

Kls : 2ea12

Satpol PP Akui Kejadian Aneh Saat Bentrok Koja

Sabtu, 17 April 2010 - 15:10 wib

Fahmi Firdaus - Okezone

Bentrokan di makam Mbah Priok (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA - Petugas Satpol PP mengakui ada keanehan yang terjadi saat bentrokan di Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, Rabu lalu.

Kejadian-kejadian aneh itu menurut Kasi Pengawasan Satpol PP, Soetanto, sempat membuat para petugas saat itu stres.

“Masak ada bambu bisa membelah tameng. Semua anggota kami stres,” ujar Soetanto saat ditemui di Lapangan Irti Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (17/4/2010).

Kejadian aneh lain, tambahnya, saat kendaraan water cannon menyemprotkan air, justru air tersebut seperti mengarah ke anggotanya.

“Batu-batu yang dilempar sepertinya sedikit yang kena, seperti tidak percaya,” bebernya lagi.

Kondisi ini, lanjutnya, membuat anggotanya tertekan dan membutuhkan konseling. Bahkan gejala stres itu jelas terlihat saat mereka dievakuasi dari terminal peti kemas Koja, menggunakan kapal melalui laut saat Rabu maghrib.

“Mereka itu (Satpol PP) perlu diberi konseling karena pada stres semua saat masuk ke kapal yang mengevakuasi melalui laut,” katanya.

(ton)

Kutipan dari…

http://news.okezone.com

Jennifer Dunn

Nama : Yoggy satrio

Npm : 11208307

Kls : 2EA12

Jennifer Dunn Divonis, Sunan Kalijaga Pilih Dampingi Klien Besar

Pebriansyah Ariefana

Jennifer (eby/hot) Jakarta Sunan Kalijaga absen di sidang Jennifer Dunn. Padahal kali ini artis yang mengaku dipacari Sunan Kalijaga itu menjalani vonis. Mengapa?

Kabar berhembus Sunan Kalijaga dipecat dari tim pengacara Jeje, sapaan akrab Jennifer Dunn. Sunan isunya dipecat terkait skandal ciuman antara Sunan dan Jeje. Namun Sunan mengatakan ia tidak mendampingi Jeje karena ada persidangan kasus besar yang ditangani.

"Saya lagi menangani kasus besar," kata Sunan saat dihubungi detikhot via ponselnya, Senin (19/4/2010).

Sunan akan lebih lengkap menjelaskan ketidakhadirannya tersebut dengan menggelar jumpa pers malam ini. "Gini aja, nanti saya jumpa pers malam ini," kata Sunan.

Skandal ciuman Sunan dengan Jennifer terjadi beberapa kali selama persidangan Jeje. Bahkan istri Sunan, Heidy Sunan, sempat menyatakan kemarahannya atas perselingkuhan Sunan dengan Jeje.

Sunan sempat membantah adanya skandal percintaan antara dirinya dengan Jeje. Namun sebaliknya, Jeje menyatakan kalau dirinya sayang dengan Sunan. Setelah itu hubungan mereka berlanjut, Sunan pun kembali tertangkap kamera wartawan sedang dicium Jeje di dalam sel tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (5/04/2010) lalu.

Beberapa hari kemudian, istri Sunan, Heidy Sunan mengadu kepada Komnas Perlindungan Anak karena anaknya telah melihat 6 foto ayahnya yang sedang berciuman dengan Jeje di facebook. Kebetulan, kata Heidi, anaknya telah berteman dengan Jeje di dalam facebook. Dugaan Heidi, Jeje lah yang telah memasang foto

tersebut.

(ebi/iy)

Kutipan dari

www.Detik.com

Ideologi Pancasila

Nama : Yoggy Satrio Waskito

NPM : 11208307

Kelas : 2EA12

IDEOLOGI PANCASILA

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna ilmu pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari kata legein yaitu berbicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754 - 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis untuk mendefinisikan sains tentang ide. Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus di dalam pikiran.

Dalam tinjauan terminologis, ideology is Manner or content of thinking characteristic of an individual or class (cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat tertentu dari seorang individu atau suatu kelas). Ideologi adalah ideas characteristic of a school of thinkers a class of society, a plotitical party or the like (watak/ ciri-ciri hasil pemikiran dari pemikiran suatu kelas di dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya). Ideologi ternyata memiliki beberapa sifat, yaitu dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga harus memiliki metode praktis bagaimana ideologi tersebut bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan.

Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi. Pancasila pertama kali dikumandangkan oleh Soekarno pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI).

Pada pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat, pemikiran yang mendalam, serta jiwa dan hasrat yang mendalam, serta perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Di samping pengertian formal menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Tepat 64 tahun usia Pancasila, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kembali menyelami kandungan nilai-nilai luhur tersebut.

Ketuhanan (Religiusitas)

Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia. Memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini pula, bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan keyakinan mereka.

Kemanusiaan (Moralitas)

Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Manusia yang maju peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal hukum universal. Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai.

Persatuan (Kebangsaan) Indonesia

Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa Indonesia hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dari dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah perjuangan panjang dan terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan Indonesia.

Permusyawaratan dan Perwakilan

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit.

Keadilan Sosial

Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak berpihakkan, keseimbangan, serta pemerataan terhadap suatu hal. Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita bernegara dan berbangsa. Itu semua bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik, dimana setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan tercapai secara merata.